  Sorgum tanaman berasal afrika dikenal memiliki sejumlah keunggulan antara lain tahan terhadap kekeringan, tahan terhadap hama penyakit, mudah dibudidayakan dan setelah dipanen menghasilkan biji sorgum yang dapat dimanfaatkan untuk pangan atau pakan serta batangnya untuk pakan, gula atau bioetanol. Riset untuk pengembangan sorgum sudah dilakukan oleh sejumlah lembaga litbang dalam negeri antara lain Balitbang kementerian Pertanian, BPPT, LIPI, BATAN, IPB, UNILA, UNPAD, UNHAS dan telah menghasilkan beberapa varietas unggul sorgum dan teknologi pengolahan sorgum menjadi aneka produk pangan, pakan, dan bioetanol. Tanaman sorgum juga cocok untuk lahan suboptimal yang masih banyak tersebar di Indonesia. Namun sangat disayangkan, produksi sorgum di Indonesia masih terbatas karena produktivitas sorgum yang masih rendah (karena mayoritas petani belum menggunakan varietas unggul), belum berkembangnya industri pascapanen dan pengolahan sorgum yang mengolah biji dan batang sorgum menjadi produk pangan, pakan dll serta belum berkembangnya permintaan/pasar biji sorgum atau tepung sorgum sebagai bahan pangan karena bertumpu pada beras.
Melihat potensi yang besar pada sorgum, kementerian BUMN bekerjasama dengan Kementerian Riset dan Teknologi mengadakan diskusi pengembangan sorgum oleh BUMN pada Selasa, 10 Juli 2012 di ruang rapat lantai 24 Gedung BPPT 2 Jakarta yang dihadiri oleh Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan dan Menteri Negara Riset dan Teknologi Gusti M. Hatta. Diskusi melibatkan 53 peserta yang mewakili unsur akademisi, pebisnis dan pemerintah : antara lain peneliti dari sejumlah Perguruan Tinggi, Balitbang Kementerian Pertanian, PT Riset Perkebunan Nusantara, BPPT, LIPI, BATAN serta BUMN perkebunan dan kehutanan.
Dalam sambutannya, Menteri Negara BUMN menyampaikan rencana Kementerian BUMN mengembangkan sorgum pada lahan seluas 15000 Ha diempat lokasi (Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sumba dan Banyuwangi) dan meminta pendapat para peneliti sorgum tentang gagasan dan kelayakan pengembangan sorgum khususnya di 4 lokasi tersebut.
Diskusi yang dipandu bergantian oleh Deputi Meneg BUMN bidang Industri Primer, M Zamkhani, Deputi pendayagunaan Iptek, Idwan Suhardi dan Deputi Kelembagaan Iptek, Benyamin Lakitan, berhasil menjaring pendapat peserta diskusi yang pada intinya semua peserta mendukung pengembangan sorgum oleh BUMN dan layak dikembangkan berlandaskan pada hasil penelitian yang telah dilakukan. Diskusi menyepakati bahwa rencana pengembangan sorgum harus dimulai dengan menghitung kebutuhan di hilir yaitu untuk pangan atau pakan, kemudian disusun kebutuhan pabrik pengolahan sorgum, kebutuhan benih dan sarana produksi. Draft rencana pengembangan sorgum akan disusun lebih rinci oleh Ali Rahman dari Kementerian BUMN berkonsultasi dengan ahli sorgum dari berbagai lembaga litbang yang kemudian dipresentasikan pada rapat mendatang.
Dalam diskusi, Benyamin lakitan mengingatkan agar pengembangan sorgum dilakukan secara tepat dan proporsional sehingga layak secara teknis, ekonomi dan sosial sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti pada saat mengembangkan jarak pagar sebagai biodiesel. Diskusi yang ditutupi oleh Deputi Pendayagunaan Iptek, Idwan Suhardi dihadiri pula oleh Staf Khusus Menristek, Gusti Nurfansyah dan Zulkifli Halim, beberapa asdep dan wakil dari deputi Kemenristek. (ad3-dep1/ humasristek) |