Ristek Headline |
Sabtu 25 Oktober 2014
 
 

thanks

IQE

Seleksi Calon Kepala LIPI
CPNS 2014
RUP TA 2014
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Selasa 21 Oktober 2014
Perpisahan Menristek : Kita Harus Bertransformasi Melakukan Perubahan

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


ARTIKEL IPTEK
Selasa 10 Juli 2012
Arah Pendidikan
Print PDF Facebook Twitter Email

Rahmat Fazri
Analis Bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek Kemenristek

 


Menjelang tahun ajaran baru yang dibarengi dengan liburan panjang sekolah dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat untuk mendaftarkan putra-putrinya ke jenjang pendidikan berikutnya. Permasalahan sering muncul pada saat pendaftaran sekolah, seperti pungutan liar, sistem pendaftaran yang penuh ‘intrik’, dan uang pangkal ketika masuk perguruan tinggi.

 

Hal ini menjadi miris mengingat sektor pendidikan yang merupakan garda terdepan pembangunan manusia penerus bangsa ternyata ikut jadi korban gurita korupsi. Pendidikan seharusnya digunakan untuk menimba ilmu dan mengembangkan kepribadian yang out put-nya diharapkan menjadi lulusan yang profesional ketika memasuki dunia kerja.

 

Tenaga kerja dalam pelaksanaan pembangunan mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan. Indonesia sudah lama mengalami masalah ketenagakerjaan yang disebabkan oleh tidak terserapnya angkatan kerja yang tumbuh cepat dan besar jumlahnya.

 

Sejumlah masalah serius yang dihadapi Indonesia dalam pengembangan kualitas SDM adalah konsekuensi yang tidak dapat dicegah, yaitu adanya pengangguran terdidik yang tetap besar. Walaupun pengangguran tidak bisa secara langsung dikaitkan sebagai pengaruh langsung dari pendidikan, setidaknya pengaruh ini akan menjadi tantangan yang perlu diperhitungkan dalam pembaruan pendidikan di Indonesia.

 

Adanya pemahaman bahwa biaya pendidikan sebagai opportunity cost, meningkatkan kepercayaan bahwa pendapatan lebih berarti sebagai tambahan penghasilan orang tua dalam menutup beban tanggungan keluarga. Imbauan bahwa anak-anak harus sekolah tidak diimbangi dengan rendahnya tingkat pendapatan keluarga.

 

Pendidikan bukan hanya penting untuk membangun masyarakat terpelajar yang menjelma dalam wujud critical mass, melainkan juga dapat menjadi landasan yang kuat untuk memacu pertumbuhan ekonomi melalui penyediaan tenaga kerja yang memiliki pengetahuan, menguasai teknologi, mempunyai keahlian, dan keterampilan. Tenaga kerja dengan kualifikasi pendidikan yang memadai akan memberi kontribusi pada peningkatan produktivitas nasional.

 

Peningkatan kualitas SDM sangat diperlukan untuk menghasilkan tenaga kerja yang siap pakai. Pemakaian istilah ‘siap pakai’ seakan memberikan gambaran bahwa pendidikan itu harus menghasilkan robot-robot yang akan melakukan tugas atau pekerjaan tertentu selama masih berfungsi.

 

Labour Market Based

 

Di antara penyebab banyaknya pengangguran di Indonesia adalah kesenjangan antara kompetensi para lulusan pendidikan dan kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar kerja. Permasalahan kesenjangan hasil yang dicapai antara pendidikan dan lapangan kerja menunjukkan bahwa dalam proses penyelenggaraan pendidikan belum terkoordinasi secara optimal antara dunia pendidikan dan kerja.

 

Mengingat masih adanya kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja maka perlu mengkaji ulang dari sistem pendidikan itu sendiri. Upaya ini dilakukan pada setiap level dan bidang dalam menyediakan SDM agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Dalam upaya membangun sistem pendidikan sudah tentu harus ditujukan untuk pencapaian keselarasan antara pendidikan dan dunia kerja.

 

Untuk mengatasi kesenjangan pendidikan dan pasar kerja maka yang perlu dilakukan dalam membangun sistem pendidikan adalah menerapkan pendidikan yang berbasis pasar kerja (labour market based). Pada prosesnya, sampai saat ini masih bersifat product oriented, yaitu dunia pendidikan lebih fokus pada upaya menghasilkan lulusan yang berkualitas.

 

Namun, kualitas dan karakteristik seperti apa yang dibutuhkan oleh pasar kerja? Karena itu, labour market oriented saat ini lebih tepat untuk menjawab kebutuhan pasar kerja akan tenaga kerja berkualitas dan pada akhirnya mengurangi pengangguran terdidik. Untuk mendekatkan proses pendidikan sejalan dengan perubahan kebijakan pendidikan berdasarkan pasar kerja, perlu dilakukan need assessment dan tracer study.

 

Need assessment dilakukan untuk mengeksplorasi kemampuan yang dimiliki peserta didik dengan melihat aspek sikap/motivasi, kondisi fisik, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam studi sosiologi, sukses ditentukan 20 persen gabungan kompetensi, yaitu pengetahun dan keterampilan, serta 80 persen adalah sikap dan motivasi kerja.

 

Selama ini, pendidikan lebih menekankan aspek pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik sebagai calon tenaga kerja. Hal inilah yang merupakan suatu kesenjangan antara dunia pendidikan dan kerja. Karena itulah, untuk mengatasi kesenjangan yang ada, perlu dilakukan in plan training dan basic skills kepada para lulusan pendidikan ketika memasuki dunia kerja.

 

Tracer study merupakan pendekatan yang memungkinkan institusi pendidikan memperoleh informasi tentang kekurangan dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Di banyak negara, ketidakcocokan keterampilan menyebabkan pengangguran yang tinggi dan pengangguran terselubung.

 

Informasi yang diperoleh dari tracer study dapat digunakan oleh lulusan pendidikan dan stakeholder pendidikan lainnya untuk pengembangan kurikulum dan sistem pendidikan. Perencanaan kurikulum dan pengembangan pendidikan menjadi lebih berbasis luas dan transdisiplin dibandingkan sebelumnya. Penekanan lebih besar diprioritaskan pada beberapa keterampilan dan studi berorientasi praktik.

 

Bagi dunia pendidikan, informasi mengenai kompetensi yang relevan bagi dunia kerja dapat membantu upaya perbaikan kurikulum dan sistem pembelajaran. Di lain pihak, dunia kerja dapat melihat ke dalam lembaga pendidikan sehingga dapat menyiapkan diri dengan menyediakan pelatihan-pelatihan yang lebih relevan. (Republika, 10 Juli 2012/ humasristek)



Jumat 17 Oktober 2014
Garis Kemiskinan Perlu Dinaikkan
Kamis 11 September 2014
Kaji Ulang Pengendalian BBM Bersubsidi
Kamis 11 September 2014
Pikir Matang Penggabungan Kementerian Perdagangan
Selasa 19 Agustus 2014
Dampak Pencabutan Subsidi Listrik
Jumat 18 Juli 2014
Masyarakat Ekonomi ASEAN : Sedikit-sedikit Disulitin
Rabu 02 Juli 2014
Iptek, Politik, dan Capres
Jumat 11 April 2014
Revisi atas Garis Kemiskinan
Kamis 10 April 2014
Investasi untuk Riset
Senin 17 Februari 2014
Pacu Kemandirian Energi, Membangun Pembangkit Skala Besar
Kamis 13 Februari 2014
Birokrasi Hambat Kemajuan Ekonomi dan Peneliti
[ Berita lainnya ]