Ristek Headline |
Sabtu 25 Oktober 2014
 
 

thanks

IQE

Seleksi Calon Kepala LIPI
CPNS 2014
RUP TA 2014
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Selasa 21 Oktober 2014
Perpisahan Menristek : Kita Harus Bertransformasi Melakukan Perubahan

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


ARTIKEL IPTEK
Selasa 31 Juli 2012
Ramadan dan Penguatan Sinergi Akademisi, Bisnis, dan Government (ABG)
Print PDF Facebook Twitter Email

 M. Athar Ismail Muzakir

Mahasiswa Program Doktor Ilmu Administrasi Kebijaan Publik UI; Alumnus Pusat Studi Islam ALMANAR; Staf Kementerian Ristek

 

Penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas) melalui sinergi antar akademisi (A), bisnis (B), dan goverment (pemerintah) masih menjadi isu hangat di negara kita. Berbagai upaya pemerintah untuk memperkuat sinergi ABG antara lain dalam hal dukungan peraturan dan kelembagaan, dana dan fasilitas pendukung dan lain-lain. Namun sayang, semua itu belum mampu memberikan hasil yang diharapkan.

 

Menurut penulis, salah satu problem yang sangat mendasar adalah rendahnya integritas para pelaku kebijakan pada seluruh ranahnya, khususnya dalam konteks sinergi ABG itu sendiri. Fenomena-fenomena seperti lemahnya penegakkan hukum, plagiat, korupsi, egosektoral dan lain-lain merupakan cermin rapuhnya integritas tersebut. Didalam perspektif agama, nilai integritas tercermin dalam bentuk ahlak.

 

Dalam Islam, anjuran terhadap inovasi dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah tidak asing lagi. Salah satu bukti, selama 711-1492, ketika dikuasai oleh kaum muslimin, Andalusia (Spanyol) berubah menjadi pusat kebudayaan Islam dan Ilmu Pengetahuan yang tiada tandingannya setelah Konstantinopel dan Baghdad. Di negeri ini pula lahir tokoh-tokoh muslim ternama yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan seperti ilmu agama Islam, kedokteran, ilmu hayat, ilmu hisab, ilmu hukum, sastra, ilmu alam, dan astronomi.

 

Keberhasilan tersebut membuktikan, dalam Islam, selain aqidah, penguatan ilmu dan teknologi juga sangat dianjurkan. Penguasaan iptek bahkan wajib, jika menjadi syarat utama bagi kukuhnya syari’at islam, Hal demikian itu berdasarkan kaidah: “Apabila ada suatu hal yang suatu amalan wajib tidak dapat terlaksana melainkan dengannya, maka hal tersebut adalah wajib.”


Setelah kita mengetahui bagaimana Islam mendorong inovasi dan pengembangan iptek, maka sekarang kita melongok bagaimana mekanisme sinergi dalam islam, khususnya dalam menjawab permasalahan kekinian. Dalam islam terdapat mekanisme kolaborasi yang sangat indah antar pemerintah, ulama, dan para ahli untu menentukan suatu hukum, khususnya yang terkait dengan masalah kekinian dari berbagai disiplin ilmu. Pemerintah memfasilitasi musyawarah antara para ulama dengan para ahli dari berbagai disiplin ilmu.

 

“Sesungguhnya Allah azza wa Jalla dengan satu anak panah, memasukkan tiga orang ke dalam surga: pembuatnya yang mengharapkan pahala ketika ia membuatnya, pemanahnya, dan orang yang membantu pemanah dengan mengambilkan anak panahnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan lainnya).

 

Kalau dianalogikan anak panah sebagai hasil teknologi, pembuat anak panah sebagai peneliti, pemanah ibarat pelaku industri, dan orang yang membantu mengambilkan anak panah adalah ibarat pemerintah. Maka bisa dibayangkan, jika hanya dengan satu anak panah saja, ganjaran begitu besar, bagaimanakah jika yang dihasilkan adalah sejumlah teknologi yang sangat canggih dan manfaatnya jauh lebih besar dari sebuah anak panah?

 

Islam memberikan reward dalam proses sinergi tadi. Namun, terdapat pula sejumlah punishment bagi pihak yang memiliki setiap sifat dan perilaku yang mengarah pada perpecahan dan perselisihan umat Islam. Diantaranya sebagaimana dinyatakan dalam surat Ali ‘Imran:105, “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.”

 

Paling tidak, prinsip reward dan punishment diatas sangat efektif terutama sebagai upaya mengatasai egosektoral dan tumpang tindih riset yang menjadi permasalahan utama dalam penguatan Sistem Inovasi Nasional

 

Mungkin kita bertanya, kenapa tumpang tindih riset, egosektoral dan sejumlah krisis integritas lainnya masih kuat di Indonesi padahal Islam sangat dominan?. Jawabnya ialah; pertama, tingkat pemahaman terutama terkait aqidah yang shohihah masih sangat lemah. Kedua, nilai islam masih belum menjadi the way of life.

 

Momentum ramadhan ini semoga menjadi titik balik bagi kita untuk kembali memperkuat ilmu, iman dan amal sholeh. Diharapkan dengannya kelak akan membentuk amunisi ampuh bagi terjalinnya sinergi yang harmonis khususnya antar komponen sistem inovasi yaitu A (Akademisi), B (bisnis) dan G (pemerintah), Allahumma, amin!!!. (Media Indonesia, 31 Juli 2012/ humasristek)



Jumat 17 Oktober 2014
Garis Kemiskinan Perlu Dinaikkan
Kamis 11 September 2014
Kaji Ulang Pengendalian BBM Bersubsidi
Kamis 11 September 2014
Pikir Matang Penggabungan Kementerian Perdagangan
Selasa 19 Agustus 2014
Dampak Pencabutan Subsidi Listrik
Jumat 18 Juli 2014
Masyarakat Ekonomi ASEAN : Sedikit-sedikit Disulitin
Rabu 02 Juli 2014
Iptek, Politik, dan Capres
Jumat 11 April 2014
Revisi atas Garis Kemiskinan
Kamis 10 April 2014
Investasi untuk Riset
Senin 17 Februari 2014
Pacu Kemandirian Energi, Membangun Pembangkit Skala Besar
Kamis 13 Februari 2014
Birokrasi Hambat Kemajuan Ekonomi dan Peneliti
[ Berita lainnya ]