Pontianak – Kehadiran Forum Group Discussion (FGD) Polnep menjadi fasilitator atau mediasi untuk memberikan solusi  pada pengembangan usaha-usaha kecil. Direktur Polnep, H. Muhammad Toasi Asha mengatakan sebenarnya Polnep mempunyai potensi besar dan belum dikelola dengan baik. Oleh karena itu, kehadiran Inkubator Bisnis Teknologi (INBISTEK) Politeknik Negeri Pontianak dapat memberikan fasilitas dalam pengembangan-pengembangan usaha kecil. “Politeknik Negeri Pontianak banyak potensi sumber daya manusia maupun fasilitas peralatan.,” ujarnya mengawali sambutannya pada kegiatan Focus Group Discussion yang diselengarakan di Hotel Ibis, Jum’at (27/9/2019).

Direktur juga menjelaskan bahwa terkadang ada suatu produk dengan sentuhan-sentuhan teknologi memberikan nilai tambah. Oleh karnanya, kesempatan yang berharga ini, para stackholders atau para pelaku usaha dapat meningkatkan nilai tambah apa yang akan kita lakukan.  Kehadarian Inkubator Bisnis Teknologi (INBISTEK) Politeknik Negeri Pontianak akan memberikan solusi.  Politeknik Negeri Pontianak  memiliki laboratorium yang berstandar, fasilitas peralatan mesin. Demikian juga potensi hasil penelitian yang dilakukan oleh para dosen memiliki nilai jual. Dia juga akan mendorong peneliti-peneliti Polnep yang memiliki peluang dalam pengembangan produk hasil penelitiannya. Direktur Polnep menjelaskan bahwa Alhamdulillah, FGD yang difasilitasi IBT Polnep ini hasilnya baik.

IBT Polnep memberikan fasilitasi dalam menyediakan ruang diskusi, bagaimana keberlanjutan kegiatan dari UKM. “Fasilitasi jika diperlukan penelitian produk, laboratorium, permesinan, termasuk mencarikan solusi pembiayaan. Kami bisa hubungakan dengan perbankan,” katanya. IBT Polnep betul-betul membantu mengatasi masalah yang dihadapi pelaku usaha kecil. Meski baru masuk tahun kedua, IBT Polnep dinilai berkembang baik oleh Kemristek Dikti. “Alhamdulillah, dari pendampingan Kemristeik Dikti, IBT Polnep mengalami kemajuan. Sudah ada satu tenant jalan, pakan ikan apung. Tahun ini, ada rekrutmen calon tenant, kami akan fasilitasi 3-4 lagi. Fokusnya pada bidang agribisnis, tentu pada sektor lain juga dilakukan,” ujarnya.

Zulfikar, Ketua IBT Polnep menyampaikan, lonjakan baik pada IBT Polnep tak lepas dari peran pendampingan Kemenristek Dikti. “Target kami membantu menyiapkan pengusaha pemula di Pontianak bisa bersaing di level nasional. Jelang akhir tahun ini akan ada kompetisi nasional, kaitan pendanaan dari Kemenristek Dikti. Kami bantu pengusaha pemula scale up, bantu penyusunan proposal,” katanya.

IBT Polnep diberikan amanat pada bidang agri bisnis dan agro industri. Tetapi dalam seleksi tersebut, mereka juga coba memasukkan kategori teknologi baru, seperti usaha drone dan robotik. “Calon tenant ini sudah binaan Polnep jauh sebelumnya, mereka alumni Polnep,” katanya.

Lukito Hasta Pratopo, tim pendamping dari Kemenristek Dikti-Unpad menyampaikan, penelitian yang sudah dilakukan perguruan tinggi banyak yang tidak sampai ke komersial. Rata-rata hanya sampai pada jurnal atau paten yang tidak dirasakan langsung masyarakat. Padahal dana penelitian tersebut dari APBN yang bersumber dari pajak (rakyat).  Ini mendorong pemerintah melakukan hilirisasi hasil riset menjadi produk komersial. Hilirisasi produk ini pelaksananya inkubator. Kemenristek Dikti membantu pembangunan dan pengembangan inkubator untuk hilirirasi produk hasil riset oleh perguruan tinggi dan lembaga lain,” ujarnya.

Sementara itu, Totok Hari Wibowo, tim pendamping dari Kemenristek Dikti-Unpad menyampaikan, sesuai data asosisasi inkubator bisnis ada lebih dari 130 inkubator di Indonesia. 80 diantaranya aktif, kebanyakan didanai Kemenristek Dikti. “Selain diberi dana, inkubator pun dipasang target. Melalui proses ini, diharapkan inkubator berkembang dan layak bersanding dengan inkubator dari negera lain,” pungkasnya.

Penyelenggaraan Focus Group Discussion dihadiri tim Kemenristekdikti, Kementerian perekonomian, para pelaku usaha, perbankan dan dinas terkait. Kegiatan ini juga dilakukan dialog antara pelaku usaha, tim Inkubator Bisnis dan Direktur.

(Humas Polnep)