Rabu (20/2019), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang pemanfaatan sains dan teknologi penerbangan dan antariksa untuk penanggulangan bencana. Perjanjian kerja sama tersebut ditandatangani oleh Kepala LAPAN, Prof. Thomas Djamaluddin dan Kepala BNPB, Doni Monardo.
Acara yang diadakan di Aula Serba Guna, gedung Graha BNPB, Jakarta timur ini juga diisi dengan kegiatan diskusi yang bertema “Siap Tangguh Bersama Lembaga Usaha”. Kegiatan ini dihadiri oleh kementerian/lembaga, lembaga masyarakat, lembaga usaha, institusi pendidikan, serta media nasional.

Seperti yang telah diketahui, LAPAN sebagai lembaga riset dibidang penerbangan dan antariksa telah melakukan program-program kegiatan terkait mitigasi bencana. Hal tersebut sesuai dengan tugas pokok dan fungsi LAPAN yang diamanatkan oleh Undang-Undang No. 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan. Dalam bidang sains antariksa dan atmosfer, LAPAN telah memiliki Space Weather Information And Forecast Services (SWIFTS). Sistem pendukung keputusan ini dimaksudkan untuk pemantauan cuaca antariksa mulai dari aktivitas matahari, geomagnet, dan ionosfer. Analisis kondisi atmosfer ini dapat dijadikan acuan dalam penentuan analisis curah hujan. Kemudian LAPAN juga mengembangkan Sistem Embaran Maritim (SEMAR) untuk memantau potensi cuaca ekstrim di laut. Selanjutnya LAPAN telah memiliki sistem SADEWA. SADEWA merupakan sebuah sistem informasi peringatan dini bencana terkait kondisi atmosfer ekstrem yang didukung satelit penginderaan jauh dan model dinamika atmosfer. Dalam kaitannya dengan sampah antariksa, LAPAN telah mengembangan sistem pemantauan realtime benda jatuh antariksa buatan.

Dalam bidang penginderaan jauh, LAPAN memiliki Sistem Informasi Untuk Mitigasi Bencana (SIMBA). SIMBA merupakan layanan informasi peringatan dini dan tanggap darurat bencana berbasis data penginderaan jauh. Didalamnya memuat informasi tentang peringatan dini bencana seperti potensi kekeringan, potensi banjir, titik panas (fire hotspot), peringatan bahaya kebakaran, serta gunung berapi. Selain itu, SIMBA juga memuat informasi tentang cakupan wilayah dan dampak kerusakan dari bencana yang disajikan dalam bentuk peta citra satelit. Selain itu, LAPAN telah mengembangkan Bank Data Penginderaan Jauh Nasional dan Sistem Pemantauan Bumi Nasional. Sistem tersebut dapat dimanfaatkan oleh kementerian/lembaga, pemerintah daerah, badan usaha, maupun masyarakat secara luas untuk mitigasi bencana.

Terakhir, dibidang teknologi penerbangan dan antariksa, LAPAN telah mengembangkan LSU (LAPAN Surveillance UAV) yang dapat dimanfaatkan untuk pemotretan wilayah udara. Selain itu, LAPAN memiliki satelit LAPAN A2/LAPAN ORARI yang dapat diaktifkan untuk komunikasi radio amatir. Hal tersebut sangat bermanfaat dikarenakan biasanya infrastruktur komunikasi wilayah terdampak bencana mengalami kerusakan secara total.

Diharapkan dengan adanya sinergitas antara pemerintah selaku regulator, para pelaku usaha, lembaga masyarakat dapat meingkatkan kepedulian terhadap program tanggap bencana. Selain itu juga dapat mempermudah proses mitigasi bencana sehingga dapat meminimalisir resiko maupun korban dari suatu bencana.

Please follow and like us:
0