Siaran Pers Kemenristekdikti

No: 11/SP/HM/BKKP/I/2019

 

Lahendong, Sulawesi Utara, 21 Januari 2019 – Pemanfaatan energi tidak terlepas dari kebutuhan sehari-hari manusia, seperti listrik. Saat ini kebutuhan listrik sebagian besar masih ditopang oleh penggunaan bahan bakar fosil yang dapat habis suatu hari nanti. Hal ini menjadi alasan bagi Pemerintahan Jokowi-JK untuk mendorong pemanfaatan energi terbaharukan (renewable energy), salah satunya adalah pemanfaatan energi panas bumi atau juga disebut geothermal energy.

Dalam menjalankan amanat Presiden RI Jokowi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menjalin kerja sama dengan GeoForschungsZentrum German Research Center for Geosciences. Kerjasama ini merupakan satu dari lima kerjasama bilateral Iptek dan Inovasi Indonesia Jerman yang telah dimulai sejak 29 Maret 1979. Selain kerjasama Iptek dan Inovasi Pengembangan Panas Bumi, Indonesia dan Jerman memiliki Kerjasama Peringatan Dini Tsunami (Indonesia Germany Tsunami Early Warning System – IG TEWS) yang telah di serah terimakan per 2006, IG Bioteknologi and Biodiversity (Keanekaragaaman Hayati), Pengembangan Business Technology Center (BTC) dan Business Innovation Center (BIC).

Di Lahendong, Tomohon, Sulawesi Utara, Pemerintah Jerman, melalui Kementerian Pendidikan dan Riset (BMBF) qq GFZ melakukan ‘transfer ownership’ (penyerahterimaan) aset Pilot Plant PLTP Binary Cycle 500kW kepada Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Kemenristekdikti qq BPPT di Lahendong, Tomohon, Sulawesi Utara (21/1).

Hadir dalam acara serah terima tersebut, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, mewakili PEMRI, yang mengaku senang atas terjalinnya kerja sama yang baik antara Indonesia dan Jerman dalam pengembangan energi terbaharukan, di bidang panas bumi tersebut. Ia juga menyampaikan apresiasi atas nama Pemerintah Indonesia, atas kerja sama iptek dan inovasi panas bumi yang telah berlangsung dari tahun 2010.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menyampaikan bahwa kerjasama ini mendukung pelaksanaan kebijakan penelitian di Indonesia. Arah kebijakan penelitian di Indonesia sesuai dengan penguatan di 10 (sepuluh) bidang fokus yang terdapat di Rencana Induk Riset Nasional (RIRN), yaitu Pertanian dan Pangan, Kesehatan, Teknologi Rekayasa Engineering (termasuk Teknologi Informasi), Transportasi, Kelautan, Transportasi, Pertahanan, Sosial dan Humaniora, serta Energi (termasuk energi terbaharukan dan energi alternatif, dimana teknologi panas bumi juga termasuk).

Seiring dengan fungsi Kemenristekdikti, Menteri Nasir menambahkan, riset teknologi dan inovasi panas bumi di Indonesia terus menerus dikembangkan secara optimal. Indonesia yang mempunyai sumberdaya geothermal (panas bumi) terbesar di dunia, yaitu sebesar 40% atau sekitar 28000 MegaWatt perlu mengembangkan varian teknologi energi yang bebas emisi dan atau polusi, untuk mengurangi dampak perubahan iklim (climate change) dan sudah terdapat beberapa industri tenaga listrik baik negeri maupun swasta yang telah menggunakan panas bumi atau geothermal ini. Kerjasama ini terbangun bersama dengan Jerman, Indonesia (BPPT, PT Kolorindo, dan PT Guthrie Probolinggo).

“Saya bangga akan hasil kerjasama Iptek dan Inovasi Indonesia Jerman ini, karena teknologi dan inovasinya, dapat dimanfaatkan juga oleh perguruan tinggi yang ada di Manado seperti Universitas Samratulangi, Universitas Negeri Menado dan Politeknik Negeri Manado, sehingga konsep ABG-C (Academic, Business, Goverment dan Community) sudah berjalan dengan baik. Kerja sama Iptek dan Inovasi (Iptekin) dalam pengelolaan geothermal/panas bumi ini lebih advance karena sisa pengolahan panas bumi dapat dimanfaatkan kembali melalui proses Binary Cycle untuk menghasilkan tenaga listrik”, ungkap Nasir.

Menristekdikti melanjutkan, saat ini, melalui prototipe teknologi dan inovasi buatan Jerman, sisa pengolahan energi geothermal yang dimanfaatkan kembali sudah dapat menghasilkan listrik sebesar 500kW. Oleh karena itu prototipe ini akan terus dikembangkan agar dapat diterapkan di lokasi geothermal lain.

Dalam pemanfaatannya, aset PLTP tersebut akan dikelola oleh Pertamina PGE. Sedangkan untuk pengembangan SDM dan riset akan bekerjasama dengan perguruan tinggi setempat seperti Politeknik Negeri Manado dan Universitas Sam Ratulangi.

“Saat ini pemanfaatan geothermal di Indonesia hanya 4% dari 9% penggunaan energi renewable. Padahal Indonesia punya potensi geothermal yang besar, jika dimanfaatkan secara optimal dapat menghasilkan 28000-29000MegaWatt”, ujar Nasir.

Menristekdikti berharap dengan sudah diserahterimakan aset geothermal ini, dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan sumberdaya manusia di bidang geothermal, pendidikan dan penelitian.

Pada kesempatan ini juga, disampaikan oleh Plt. Kepala BPPT, Wimpie Agoeng Noegroho Aspar, bahwa Indonesia mempunyai sumberdaya goethermal yang sangat berlimpah. Penggunaan teknologi panas bumi ini juga dimaksudkan untuk mengurangi polusi dalam rangka meminimalisir emisi dan polusi, sebagai reaksi cepat tanggap menanggapi dampak perubahan iklim dunia.

“Selama ini BPPT telah bekerjasama dengan GFZ dan Pertamina Geothermal Energi (PGE) dalam membangun teknologi geothermal ini, dan ini merupakan konsep geothermal yang berkelanjutan (sustainable geothermal energy). Indonesia juga mempunyai perjanjian kerjasama antara Kemenristek Indonesia dengan BMBF (Kementerian Pendidikan dan Riset) Jerman pada tanggal 17 April 2010 tentang pengembangan teknologi panas bumi, kemudian BPPT dengan GFZ pada bulan Juni 2010, serta antara BPPT dengan PGE pada tahun 2012”, ungkap Wimpie.

Wimpie melanjutkan, BPPT siap menerima aset mobile binary pilot plant geothermal ini dan akan mengembangkan proyek selanjutnya dengan PLN dan PGE. Ia berharap hasil kerjasama ini dapat memberikan kontribusi lebih untuk penyediaan tenaga listrik yang dapat digunakan untuk masyarakat dan industri.

Direktur Pertamina untuk Energi Geothermal, Alimundakir, mengatakan bahwa kerjasama ini dilakukan untuk meningkatkan penggunaan tenaga geothermal dari yang sebelumnya hanya 4 persen atau 1500MWatt menjadi 500 kW, hal ini diperlukan usaha untuk meningkatkan hal tersebut. Selain itu, serah terima ini merupakan kerjasama yang sangat penting dengan menggunakan teknologi baru yang disediakan oleh GFZ, dalam mekanisme transfer teknologi

“Kami berharap dengan penggunaan temperatur yang rendah dan air panas yang ada, kita bisa menggunakan teknologi ini dengan lebih baik. Aset ini juga bisa digunakan sebagai laboratorium lapangan untuk perguruan tinggi di Manado untuk memanfaatkan teknologi geothermal yang ada.

Setelah pelaksanaan serah terima IG-TEWS (Indonesia Germany Tsunami Early Warning System) beberapa tahun lalu, pihak GFZ sangat senang bahwa hari ini dapat terlaksana serah terima pilot plant Geothermal ini ke Indonesia. Hal tersebut diungkapkan Ernst Huenges, perwakilan GFZ. Selain itu, Ernst mengatakan bahwa pihak Jerman membangun proyek ini karena Indonesia mempunyai 40 persen sumberdaya geothermal di dunia, yang dapat dioptimalkan untuk masyarakat Indonesia, sehingga proyek ini dapat terus dikembangkan untuk mendukung persediaan listrik sebesar 1 GigaWatt. Pihak Jerman berharap hasil dari teknologi panas bumi ini dapat digunakan oleh mitra-mitra lainnya.

Bersamaan dengan acara ini juga dilaksanakan empat penandatanganan kerjasama, yaitu

(a) antara BPPT dengan Universitas Samratulangi tentang Pengkajian dan Penerapan dan Pemasyarakatan Teknologi untuk mendukung Pengembangan Sumberdaya Manusia dan Pengabdian Masyarakat,

(b) antara Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE) BPPT dengan Politeknik Negeri Manado tentang Optimasisasi Kinerja Teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Silus Biner 500 Kilowatt di Lapangan Panas Bumi Lahendong Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara,

(c) antara B2TKE dan PT Pertamina Geothermal Energy dalam Perjanjian Studi Bersama tentang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Siklus Biner 500 Kilowatt di Wilayah Pengusahaan Panas Bumi Lahendong, Sulawesi Utara,

(d) antara BPPT dengan Politeknik Negeri Manado tentang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pembangkit Listrik untuk Meningkatkan Kemampuan Sumberdaya Manusia.

Mengungkapkan perasaannya, Bara Hasibuan, anggota Komisi VII DPR RI juga menyampaikan bahwa momen ini merupakan sejarah bagi Indonesia. Ia sangat bangga menjadi saksi dalam serah terima proyek ini. Bara juga menyampaikan, bahwa Sulawesi Utara merupakan 1/3 dari sumberdaya geothermal yang ada di Indonesia selain di pulau Sumatera dan lainnya.

“Saya berharap di tahun 2025, Indonesia dapat mengefisiensikan penggunaan energi dengan menggunakan energi yang terbarukan. Proyek ini sungguh sangat bermanfaat untuk pulau atau daerah terluar di Indonesia. Saya juga berkomitmen, sebagai wakil DPR, untuk selalu mendukung perkembangan teknologi seperti ini, sebagaimana Sulawesi Utara sangat kaya akan sumberdaya geothermal, dan berharap energi geothermal ini akan menjadi sumberdaya energi utama di masa depan”, ungkapnya.

Pada kesempatan ini, Gubernur Sulawesi Utara juga mengungkapkan ucapan terima kasih kepada GFZ dan PGE karena dapat memiliki pembangkit tenaga listrik yang berasal dari geothermal, dimana selama ini tenaga panas bumi sudah digunakan sebesar 120 MW dari penelitian geothermal ini.

Duta Besar Jerman, Peter Scoof, juga mengungkapkan bahwa kerjasama ini merupakan komitmen Pemerintah Jerman untuk mengurangi dampak perubahan iklim (climate change) melalui pemanfaatan geothermal yang diserahkan hari ini. Di Indonesia terdapat 2,5 GigaWatt potensi geothermal yang dapat dimanfaatkan dan pemerintah Jerman sudah berkontribusi total bersama-sama peneliti terbaik di Indonesia dalam pengembangan geothermal, untuk mengurangi emisi sehubungan dengan pengurangan dampak perubahan iklim dunia.

“Kami berharap di masa yang akan datang prototipe ini dapat diduplikasi dan replikasi (multiplier effect) di seluruh Indonesia”, ungkap Schoof.

Duta Besar Jerman kembali menegaskan, bahwa sudah 40 tahun kedua Negara bekerjasama di bidang pengembangan Iptek dan Inovasi. Pemerintah Jerman merupakan salah satu Negara yang merespon cepat bencana Tsunami di Aceh 2004 dan mendirikan IG TEWS (Indonesia-Germany Tsunami Early Warning System). Selain itu, kami juga bekerjasama dalam penelitian di bidang kesehatan dan keragaman hayati, perkebunan karet, kelapa sawit dan sebagainya. Di masa yang akan datang, perlu ditingkatkan kerjasama di bidang penelitian dan isu-isu terkini dalam mendukung sustainable development goals (SDG).

Selain itu, Duta Besar Jerman YM Scoof juga menambahkan, bahwa sudah terdapat 3000 mahasiswa/i Indonesia, yang telah merasakan beasiswa yang diberikan dalam kerjasama yang diinisiasi oleh Prof. BJ. Habibie sejak tahun 1979, untuk itu Pemerintah Jerman meyakini bahwa Menristekdikti Mohamad Nasir dapat datang kembali ke Jerman untuk membahas pengembangan kerjasama Iptek Inovasi dan Pendidikan Tinggi, karena Indonesia dan Jerman mempunyai minat kerjasama yang sangat tinggi, apalagi keduanya adalah negara demokratis dan telah bersahabat selama puluhan tahun.

Kegiatan serah terima ini juga dihadir oleh Gubernur Sulawesi Utara dan Walikota Tomohon yang keduanya juga menyampaikan sambutan, serta perwakilan dari Kemenristekdikti (Jumain Appe Direktur Jenderal Penguatan Inovasi dan Hotmatua Daulay), BPPT, Pertamina Geothermal Energi (PGE), Pemerintah Daerah Manado, Komisi VII DPR, GFZ (GeoForschungsZentrum/German Research Center for Geosciences), BMBF dan Kedubes Jerman di Indonesia, PLN, ESDM, Universitas Samratulangi, Universitas Manado, dan Politeknik Negeri Manado.

 

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kemenristekdikti
dan
Wiwi Humas BPPT