Siaran Pers Kemenristek_BRIN
Nomor : 238/SP/HM/BKKP/XI/2019

Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan Indonesia saat ini sudah berkembang dari sisi ekonomi jasa atau ‘service economy’, terutama dari ‘digital economy’, namun Indonesia perlu memperkuat sektor manufaktur dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menyebarluaskan kesejahteraan nasional.

“Saat ini kita paham bahwa semua orang saat ini berada dalam euforia ‘digital economy’, tapi di saat yang sama kita harus melihat masa depan, dalam arti kita harus mulai menanam pondasi yang kuat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Menteri Bambang saat memberi sambutan pada the Launching of University of Washington Alumni Association Indonesia (UWAIN) di Hotel Grand Hyatt, Jakarta pada Kamis (31/10) malam.

Bambang Brodjonegoro mengungkapkan komitmen Kementeriannya untuk mendorong perusahaan berbasis manufaktur dan kalangan industrialis di Indonesia, mengembangkan produk inovatif yang kompetitif di persaingan internasional, yaitu melalui proses riset dan pengembangan atau ‘research and development’ (R and D).

“Tanggung jawab saya saat ini adalah menangani R and D, riset dan pengembangan dan hilirisasinya ke masyarakat dan industri. Saat ini Kemenristek/BRIN tengah menciptakan platform dan menguatkan ekosistem Iptek dan Inovasi sehingga masyarakat Indonesia mau dan berkenan menggunakan produk-produk inovasi anak bangsa. Mengapa Korea Selatan sangat baik dalam membuat Samsung atau LG sebagai produk elektronik yang dominan? Hal ini bukan karena “magic touch’ atau keberuntungan semata, tapi karena proses riset dan pengembangan RD (upscaling RD products menjadi innovative useable products) yang lama dan melelahkan Itulah yang seharusnya industrialis lakukan,” ungkapnya.

Menteri Bambang mengungkapkan hampir semua negara berpopulasi besar yang maju memiliki sektor manufaktur yang kuat karena banyak tenaga kerja yang terserap dan bekerja di pabrik yang inovatif, salah satu contohnya adalah Korea Selatan.

“Negara besar manapun, kalau kita lihat sejarahnya, seperti sejarah Amerika Serikat, Eropa Barat, Jepang dan Korea Selatan, mereka tidak bisa langsung menjadi service economy. Memang sekarang Korea Selatan mulai pindah ke ekonomi berbasis jasa. K-Pop adalah contoh sukses dari service economy, tapi Indonesia tidak bisa meniru begitu saja dengan adakan versi K-Pop sendiri,” ungkap Menristek/Kepala BRIN.

Menteri Bambang mengungkapkan Korea Selatan baru bisa mengembangkan K-Pop setelah manufaktur Korea Selatan berhasil menciptakan produk inovatif yang kompetitif, yaitu telepon pintar atau smartphone.

“Indonesia harus melalui proses yang sudah dialami Korea, melalui hal yang melelahkan, yaitu membangun sektor manufaktur sehingga dapat menjadi kompetitif. Kalau kita lihat yang sudah terjadi di Korea. Memang K-Pop sudah tersebar, tapi kalau kita lihat dari telepon pintar Anda, mungkin sampai lima puluh persen telepon di ruangan ini itu Samsung. Ini tentu saja kesuksesan dari Korea Selatan dalam manufaktur,” ungkap Bambang Brodjonegoro.

Menristek/Kepala BRIN mengungkapkan ada banyak negara berpopulasi kecil yang bisa maju hanya melalui ekonomi berbasis jasa (service economy), namun Indonesia tidak bisa berlandaskan ‘service economy’ karena ekonomi berbasis jasa tidak membutuhkan banyak tenaga kerja.

“Kalau kita tinggal di Singapura, mudah untuk menjadi service economy. Itu yang mereka lakukan sekarang atau Dubai (Uni Emirate Arab) juga mudah untuk menjadi service economy tapi untuk Indonesia dengan 266 juta jiwa dengan hambatan geografis, karena kita negara kepulauan terbesar di dunia, sayangnya kita tidak bisa hanya menjadi service economy,” ungkap Bambang Brodjonegoro di hadapan puluhan alumni Universitas Washington, Amerika Serikat tersebut.

Turut hadir dalam kesempatan ini puluhan pemuda Indonesia yang sudah menjadi alumni dari Universitas Washington, Amerika Serikat. Salah satunya Founder Tokopedia Leontinus Alpha Edison, CEO Traveloka Transport Caesar Indra, dan CBO Amartha Ari Lumbantobing.

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN