Siaran Pers Kemenristek/BRIN
Nomor: 287/SP/HM/BKKP/XII/2019

Jakarta – Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional diresmikan oleh Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro. Lembaga yang berdiri dengan kerja sama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dokter Cipto Mangunkusumo (FKUI – RSCM) dan PT Kimia Farma ini dapat memberikan pengobatan dari sel punca atau stem cell untuk berbagai penyakit degeneratif yang lebih terjangkau bagi pasien dibanding pengobatan serupa di luar negeri.

“Tadi saya lihat jenis penyakitnya macam-macam, dari yang cedera tulang, luka dalam, diabetes, stroke, dan segala macam. Artinya harusnya kalau di masa lalu orang Indonesia, terutama yang punya uang ramai-ramai ke luar negeri untuk stem cell, entah ke Jerman, Singapura, atau Malaysia, sudah saatnya kita memberikan keyakinan kepada masyarakat Indonesia sendiri bahwa dokter di Indonesia dan rumah sakitnya itu sanggup memberikan treatment stem cell yang sama baiknya bahkan lebih baik dan tentunya yang paling penting adalah masalah harganya. Meskipun harganya pasti mahal karena ini bukan teknologi yang murah tapi paling tidak harganya lebih terjangkau oleh masyarakat,” ungkap Menteri Riset Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro dalam arahan saat meresmikan Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional FKUI-RSCM di Senat Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Kampus UI Salemba, Jakarta pada Selasa (17/12).

Menteri Bambang Brodjonegoro memberikan arahan setelah Kepala Unit Pelayanan Terpadu Pengembangan Teknologi Kedokteran Sel Punca RSCM – FKUI Profesor Ismail Hadisoebroto Dilogo memaparkan pencapaian penelitian terkait stem cell di FKUI – RSCM setelah didanai secara insentif oleh Kemenristekdikti sejak 2009 dimana pada tahun pertama pendanaan tersebut Kemenristek bersama Kementerian Kesehatan dan Universitas Indonesia mengalokasikan 4,6 miliar Rupiah untuk pengembangan stem cell. Sejak 2009, pendanaan terus diberikan hingga 2020.

Bambang Brodjonegoro menyampaikan pengobatan stem cell yang sudah dapat diterapkan kepada pasien RSCM ini dapat memberikan harapan baru bagi pasien dengan penyakit degeneratif yang sebelumnya belum dapat disembuhkan.

“Yang paling penting adalah ada harapan ketika mengalami cedera berat atau penyakit yang sudah membuat pasien kehilangan harapan, ternyata inovasi yang dilakukan FKUI khususnya timnya Prof Ismail dengan stem cell telah memberikan harapan dan tentunya ini akan sangat bermanfaat bagi kesehatan masyarakat secara umum dan itulah sebenarnya tujuan kita memberikan hibah di berbagai bidang,” harap Menristek/Kepala BRIN.

Dengan diresmikannya Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional FKUI – RSCM ini, FKUI – RSCM turut ditunjuk menjadi koordinator penelitian bagi perguruan tinggi yang sudah mengembangkan stem cell.

“Saya berterima kasih FKUI bersedia atau sudah sanggup menjadi koordinator nasional untuk stem cell karena saya yakin Fakultas Kedokteran di tempat lain juga melakukan stem cell. Saya pernah masuk ke laboratoriumnya Unair di Surabaya. Saya pernah dikasih tahu di Unpad juga. Dua-duanya sama, memang produk awalnya masih stem cell yang anti ageing. Kalau di sini sudah macam-macam tadi sesuai yang disampaikan Prof Ismail,” ungkap Menteri Bambang Soemantri Brodjonegoro.

Turut hadir dalam peresmian ini Plt. Deputi bidang Penguatan Inovasi Kemenristek/BRIN Jumain Appe; Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ali Ghufron Mukti; Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan Hesty Widyastoeti; Deputi bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif Rita Endang; Rektor Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro; Dekan FKUI Ari Fahrial Syam; Direktur Utama RSCM Lies Dina Liastuti; serta Direktur Pengembangan Bisnis PT. Kimia Farma Imam Fathorrahman. Turut hadir juga para eselon FKUI, guru besar, peneliti, serta dokter yang turut berjasa dan berpartisipasi mengembangkan stem cell di Indonesia.

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN
dan
Kantor Hubungan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Publik
Universitas Indonesia