Siaran Pers Kemenristekdikti
Nomor : 129/SP/HM/BKKP/VII/2019

Jakarta – Melalui Sistem Informasi Monitoring dan Evaluasi (SIMonev), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melakukan Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Program, Kegiatan, dan Anggaran Kemenristekdikti Triwulan II terhadap Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) di seluruh Indonesia. Pemantauan melalui sistem online ini diharapkan mampu mendorong setiap unit kerja di lingkungan Kemenristekdikti mencapai target program kerja dan melaporkan penyerapan anggaran secara terbuka.

“Kementerian telah melakukan perubahan-perubahan yang mendasar. Kami telah melakukan SiMonev, yaitu e-monevnya kita sudah lakukan,” ungkap Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir saat Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Program, Kegiatan, dan Anggaran Kemenristekdikti Triwulan II Tahun 2019 di Auditorium Lantai 2 Gedung D Kemenristekdikti pada Senin (15/7).

Menristekdikti mendorong setiap pimpinan unit utama untuk mengisi SiMonev sesuai tenggat waktu agar penggunaan anggaran dan pencapaian program kerja dapat akuntabel atau terbuka.

“Diharapkan masing-masing unit kerja meningkatkan kepatuhan pengisian, baik untuk pengisian capaian output setiap bulan, maupun capaian kinerja setiap triwulan. Pimpinan unit kerja diharapkan lebih peduli terhadap pelaporan capaian kinerjanya, supaya diketahu semua kinerjanya,” ungkap Menteri Nasir.

Menteri Nasir mengungkapkan dengan adanya SiMonev ini, diharapkan pengumpulan data terkait pemantauan dan evaluasi dapat dilaporkan secara lebih cepat.

“Bisa tidak dalam waktu tiga hari atau empat hari itu sudah selesai seratus persen, karena sudah terotomatisasi, sudah terkomputerisasi. Supaya nanti ke depan, tidak lagi bermasalah penungguan terhadap hasil-hasilnya ini. Supaya semua lebih cepat,” harap Menristekdikti.

Dalam kesempatan ini, Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Ainun Na’im mengungkapkan SiMonev yang digunakan untuk Pemantauan dan Evaluasi Triwulan II ini mampu menampilkan lebih banyak aspek terkait anggaran, termasuk output dan target yang sudah tercapai.

“Sistem ini secara terus-menerus kita sempurnakan, demikian pula sistem-sistem informasi yang ada di Kemenristekdikti, sehingga kalau kita lihat pada laporan capaian kinerja dan pelaksanaan rencana kerja dan anggaran tahun 2019 dari Bapak Menristekdikti, cakupannya lebih luas dan juga lebih tajam dan menyangkut tidak hanya aspek realisasi anggaran, tapi juga semua output dan hasil yang ingin kita capai,” ungkap Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Ainun Na’im

Hingga triwulan II atau pertengahan tahun, Kemenristekdikti sendiri sudah merealisasikan anggaran sebesar 42,52 persen dari 43 triliun Rupiah pagu anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dalam Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Program, Kegiatan, dan Anggaran Kemenristekdikti Triwulan II Tahun 2019 ini, ada beberapa unit utama yang mencapai realisasi anggaran tertinggi dan realisasi fisik output tertinggi. Berikut adalah lima PTN dan LLDIKTI dengan realisasi anggaran dan fisik output tertinggi:

Lima Realisasi Anggaran Tertinggi Perguruan Tinggi Negeri Satuan Kerja (PTN Satker) Triwulan II 2019

  1. Politeknik Negeri Batam (61,88 persen)
  2. Universitas Siliwangi (46,99 persen)
  3. Universitas Negeri Makassar (46,16 persen)
  4. Universitas Musamus (44,66 persen)
  5. Politeknik Negeri Medan (42,76 persen)

Lima Realisasi Fisik Output Tertinggi Perguruan Tinggi Negeri Satuan Kerja (PTN Satker) Triwulan II 2019

  1. Institut Teknologi Sumatera (60,63 persen)
  2. Universitas Timor (60,55 persen)
  3. Politeknik Negeri Bandung (60,53 persen)
  4. Politeknik Negeri Tanah Laut (59,83 persen)
  5. Politeknik Negeri Batam (59,50 persen)

Lima Realisasi Anggaran Tertinggi Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum (PTN BLU) Triwulan II 2019

  1. Universitas Riau (42,06 persen)
  2. Universitas Negeri Malang (41,89 persen)
  3. Universitas Halu Oleo (41,79 persen)
  4. Universitas Brawijaya (39,79 persen)
  5. Universitas Pendidikan Ganesha (39,39 persen)

Lima Realisasi Fisik Output Tertinggi Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum (PTN BLU) Triwulan II 2019

  1. Universitas Pattimura (48,57 persen)
  2. Universitas Negeri Medan (48,30 persen)
  3. Universitas Riau (46,29 persen)
  4. Universitas Nusa Cendana (45,43 persen)
  5. Universitas Pendidikan Ganesha (45,36 persen)

Lima Realisasi Anggaran Bantuan Pendanaan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (BPPTNBH) Tertinggi Triwulan II 2019

  1. Institut Teknologi Bandung (76,76 persen)
  2. Institut Pertanian Bogor (56,96 persen)
  3. Universitas Indonesia (52,40 persen)
  4. Universitas Airlangga (52,35 persen)
  5. Universitas Gadjah Mada (51,00 persen)

Lima Realisasi Anggaran Tertinggi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Triwulan II 2019

  1. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah X Padang (58,43 persen)
  2. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah I Medan (56,54 persen)
  3. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Surabaya (53,79 persen)
  4. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VIII Denpasar (53,35 persen)
  5. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah II Palembang (52,29 persen)

Lima Realisasi Fisik Output Tertinggi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Triwulan II 2019

  1. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IX Makassar (64,00 persen)
  2. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah I Medan (63,11 persen)
  3. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Surabaya (60,25 persen)
  4. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah II Palembang (56,50 persen)
  5. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VIII Denpasar (55,63 persen)

Turut dipaparkan juga oleh Menristekdikti pencapaian program-program prioritas Kemenristekdikti, mencakup:
A. Beasiswa Bidikmisi

  1. Academic excelence, mencakup peningkatan kualitas mahasiswa Bidikmisi (Rata-rata IPK 3,26)
  2. Economic benefit, mencakup pengurangan tingkat kemiskinan dengan semakin banyaknya SDM berpendidikan tinggi berkualitas yang terserap oleh pasar tenaga kerja (49 persen bekerja di swasta, 26 persen di pemerintahan, 17 persen di LSM, dan 8 persen berwirausaha)
  3. Social impact, mencakup peningkatan kualitas hidup, akses mendapatkan pekerjaan, dan penghasilan yang lebih layak bagi lulusan Bidikmisi (24 persen alumni Bidikmisi mendapat pekerjaan sebelum lulus. Masa tunggu rata-rata ilmu ekonomi dan sosial dua bulan. Ilmu eksakta satu bulan)

B. Beasiswa Afirmasi Pendidikan (ADik)

  1. Academic Excelence mencakup peningkatan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat Papua, Papua Barat, dan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T)
  2. Economic benefit mencakup peningkatan Sumber Daya Manusia di Papua, Papua Barat, dan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T)
  3. Social impact, mencakup perekat dan pemersatu bangsa, semakin banyaknya SDM dari Papua, Papua Barat, dan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) yang bersekolah di seluruh wilayah Indonesia serta peningkatan status sosial masyarakat Papua, Papua Barat, dan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) (jumlah penerima Beasiswa ADik pada 2019 mencapai 4.326 mahasiswa aktif)

C. Revitalisasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK)

  1. Academic excellence, peningkatan kualitas guru seiring dengan meningkatnya jumlah akreditasi LPTK (LPTK tanpa akreditasi ditargetkan memiliki akreditasi minimal C. LPTK berakreditasi C didorong memiliki akreditasi B. LPTK berakreditasi B didorong mencapai akreditasi A).
  2. Economic benefit, berupa efisiensi biaya pendidikan melalui pengembangan Program Profesi Guru (PPG) hybrid learning yang mampu menampung 47.033 mahasiswa selama dua tahun (2018 hingga Mei 2019) lebih banyak dibanding PPG reguler yang memfasilitasi 20.532 mahasiswa selama enam tahun (2013 sampai 2018).

D. World Class University (WCU)

  1. Academic excellence, mencakup kualitas pendidikan dengan banyaknya program studi terakreditasi internasional serta kuantitas dan kualitas publikasi WCU (total publikasi sejak 2015 hingga 2019 mencapai 47.516).
  2. Economic benefit, meningkatnya devisa Negara dengan hadirnya mahasiswa asing. Dengan asumsi mahasiswa asing menghabiskan USD 300 per bulan, akan ada pendapatan devisa sebesar USD 18 juta per tahun untuk lima ribu mahasiswa. Jumlah mahasiswa asing saat ini di PTNBH mencakup 161 mahasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB), 498 mahasiswa di Universitas Airlangga (Unair), 577 mahasiswa di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), 645 mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB), 687 mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM), dan 1.683 di Universitas Indonesia (UI).

E. Revitalisasi Politeknik

  1. Academic excellence, mencakup kualitas program studi yang adaptif dengan kebutuhan industri dan penguatan transfer teknologi dan pengalaman antara perguruan tinggi dengan industri.
  2. Economic benefit, berupa peningkatan produktivitas bagi industri dengan memanfaatkan lulusan yang adaptif dengan industri. Sertifikasi kompetensi lulusan vokasi sebanyak 13.765 mahasiswa (2017 – 2019) dan retooling dosen vokasi sebanyak 779 dosen (2017 – 2018).
  3. Social impact, meningkatkan kepercayaan masyarakat dan industri terhadap lulusan perguruan tinggi vokasi.

F. Pusat Unggulan Iptek (PUI)

  1. Academic excellence, mencakup penguatan iklim riset dan peningkatan sinergi riset. Platform sinergi PUI pada 2017 – 2019 mencapai 1.079 riset bersama.
  2. Economic benefit, meningkatkan pemanfaatan produk inovasi lembaga penelitian dan pengembangan (lemlitbang) di industri. Kontrak bisnis dengan industri dalam rangka hilirisasi produk unggulan dari lemlitbang mencapai 8.751 kontrak (2018).
  3. Social impact, meningkatkan kepercayaan publik terhadap lemlitbang unggul. Indonesia Innovation Day (IID) yang sudah tiga tahun diselenggarakan di luar negeri menghasilkan banyak kontrak bisnis. 10 kontrak dihasilkan pada IID 2017, 22 kontrak pada IID 2018, dan 14 kontrak pada IID 2019.

G. Science and Technology Park (STP)

  1. Academic excellence, meningkatkan riset berkelanjutan yang berorientasi produk inovasi dalam kawasan STP. Hinggal 2019 secara akumulatif terdapat 321 riset inovasi yang dilakukan dalam kawasan STP.
  2. Economic benefit, meningkatkan Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) yang dibina dalam kawasan STP. Secara akumulatif terdapat 230 PPBT yang dilahirkan di kawasan STP hingga 2019.
  3. Social impact, meningkatkan kewirausahaan dan kepercayaan publik terhadap pengelolaan komoditas utama daerah. Ada peningkatan potensi peluang kerja dengan asumsi dibutuhkan 10 pegawai per PPBT.

I. Beasiswa Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU)

  1. Academic excellence, meningkatkan iklim riset dengan meningkatnya publikasi mahasiswa PMDSU. Jumlah publikasi mahasiswa PMDSU hingga Mei 2019 mencapai 547.
  2. Economic benefit, mengoptimalkan masa studi dan efisiensi anggaran. Rata-rata beasiswa untuk dua tahun S2 dan tiga tahun S3 berjumlah 344 juta Rupiah, sedangkan biaya PMDSU untuk masa studi satu tahun S2 dan tiga tahun S3 lebih hemat, berjumlah 280 juta Rupiah.
  3. Social impact, meningkatkan minat masyarakat terhadap perguruan tinggi yang melaksanakan PMDSU. Jumlah perguruan tinggi yang menyelenggarakan PMDSU meningkat dari hanya 6 pada 2013 menjadi 16 pada 2019.

J. World Class Professor (WCP)

  1. Academic excellence, meningkatkan H index dan citation index dosen. Program WCP meningkatkan rata-rata H index dosen dari 6,23 (2017) menjadi 6,31 (2019).
  2. Economic benefit, meningkatkan kerja sama luar negeri melalui pengerjaan dan pengembangan riset dengan sumber anggaran dari pihak profesor dari perguruan tinggi luar negeri.
  3. Social impact, mendukung perguruan tinggi Indonesia mendapatkan peningkatan World Class University Ranking dan pemeringkatan dalam negeri melalui publikasi tingkat dunia. Ada peningkatan dari rata-rata citation index dosen dari 31,88 pada 2017 menjadi 42,77 pada 2018.

K. Program Riset dan Pengembangan – Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN), Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional (INSINAS), dan Program Pengembangan Teknologi Industri (PPTI)

  1. Academic excellence, menigkatnya jumlah publikasi. Ada peningkatan dari 20.239 publikasi internasional dari Indonesia pada 2017 menjadi 29.031 pada 2018.
  2. Economic benefit, meningkatkan pemanfaatan hasil riset ke skala industri yang ditandai meningkatnya prototipe industri. Hingga 2018 sudah ada 137 prototipe industri. Terdapat peningkatan pendaftaran paten dari 4.018 pada 2017 menjadi 6.584 pada 2018.
  3. Social impact, pemanfaatan teknologi yang dikembangkan lemlitbang dan perguruan tinggi mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat di bidang kesehatan (air bersih dan rontgen digital), lingkungan hidup (teknologi fine bubble), dan mitigasi bencana (early warning system untuk longsor).

L. Program Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT)

  1. Economic benefit, meningkatkan omzet dari setiap tenant startup yang mendapat Program PPBT. Total omzet startup penerima Program PPBT hingga 2018 berjumlah 35,26 miliar Rupiah.
  2. Social impact, memberdayakan masyarakat sekitar menjadi tenaga kerja perusahaan startup.

M. Inovasi Industri

  1. Economic benefit, menghasilkan royalti, omzet, line produksi baru, pabrik baru, dan pemasukan produk inovasi. Terjual 240 ton benih padi IPB 3S senilai 1,919 miliar Rupiah. Laba bersih penjualan bibit buah inovatif senilai 234 juta Rupiah per tahun. Harga jual sapi hasil riset meningkat dari 11,4 juta menjadi 13,5 juta per ekor. Penjualan bakso, daging, pakan, dan konsentrat hasil riset inovatif mencapai 2,28 miliar Rupiah.
  2. Social impact, meningkatkan kemampuan masyarakat dalam penyerapan inovasi produk riset sekaligus peningkatan kualitas hidup mereka. Benih padi IPB 3S menyejahterakan 251 petani dari 16 provinsi. Budidaya buah tropika menyejahterakan 80 hingga 100 petani dari 14 provinsi. Pembibitan sapi menyejahterakan 229 kepala keluarga.

Dalam kesempatan ini turut hadir Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Ainun Na’im, Plt. Inspektur Jenderal Kemenristekdikti Yusrial Bahtiar, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ismunandar, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati, Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Jumain Appe, Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo, Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Ali Ghufron Mukti, Staf Ahli Kemenristekdikti Bidang Akademik Paulina Pannen, Staf Khusus Menristekdikti 1 Abdul Wahid Maktub, Staf Khusus Menristekdikti 2 Ahmad Jabidi Ritonga, para rektor universitas negeri dan institut negeri di seluruh Indonesia, direktur politeknik negeri dan akademi komunitas negeri di seluruh Indonesia, para kepala LLDIKTI di seluruh Indonesia, serta para eselon dan pegawai Kemenristekdikti.


Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristekdikti