Nomor : 102/SP/HM/BKKP/V/2019

Siaran Pers Kemenristekdikti


Cirebon – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mendorong pesantren-pesantren di Indonesia turut berkontribusi dalam meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Tinggi Indonesia. Menteri Nasir meminta paling tidak 500 dari sekitar 29.000 pesantren di Indonesia untuk mengembangkan perguruan tinggi minimal pada tingkat akademi komunitas.

“Harapannya 5 tahun kedepan mulai dari Aceh sampai dengan Papua kurang lebih 500 pesantren akan didorong memiliki pendidikan tinggi di luar bidang agama sesuai dengan potensi dan kearifan lokal masing-masing daerah untuk meningkatkan kualitas pendidikan daerah tersebut, namun apabila tidak dapat memenuhi kriteria sebagai universitas ataupun sekolah tinggi maka akan dibentuk akademi komunitas,” ujar Menristekdikti usai menyerahkan Surat Keputusan Sekolah Tinggi Kesehatan (Stikes) KHAS Kempek, di Cirebon, Jawa Barat pada Rabu (22/5).

Menteri Nasir menjelaskan jika setiap akademi komunitas yang didirikan pesantren memiliki 500 mahasiswa, maka pesantren akan berkontribusi menciptakan 25.000 mahasiswa dan turut meningkatkan APK pendidikan tinggi Indonesia yang saat ini masih pada angka 34,5 persen.

Menteri Nasir meminta perguruan tinggi yang dikembangkan pesantren sesuai dengan potensi dan kearifan lokal yang ada. Salah satunya seperti bidang ‘herbalife’ yang menjadi salah satu fokus Stikes Khas Kempek.

“Obat yang ada di apotek itu, 92 persen bahan-bahannya bukan dari Indonesia, bahan impor, kalau pun diproduksi di Indonesia tapi yang punya resep komposisi obatnya (maupun patennya) adalah orang dari luar negeri. Maka kalau STIKES KHAS Kempek dapat memformulasikan paten ‘herbamedicine’ maupun ‘herbalife’, karena Indonesia kaya akan biodiversity (keanekaragaman hayati), Insya Allah para santriwan dan santriwati akan bisa menghasilkan terobosan inovasi (‘breakthrough innovation’), sehingga obat-obatan berbahan baku lokal bisa dihasilkan dari santri Kempek ini, agar kedepannya bangsa Indonesia menjadi mandiri dan tidak lagi bergantung dengan obat-obatan impor,” harap Menristekdikti.

Menristekdikti mengatakan stikes prodi Farmasi dan Gizi sangatlah penting, dengan adanya kedua program studi ini diharapkan mampu meningkatkan kesehatan generasi millenials (anak bangsa) terutama para santri dan masyarakat Cirebon.

Sementara Pengasuh Ponpes Kempek Cirebon, KH Musthofa Aqiel Siradj menyebut pesantren memiliki peran penting dalam pendidikan di Indonesia mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Pesantren dewasa ini, sudah harus bicara banyak soal ilmu duniawi. Dia mencontohkan, santri dituntut menguasai teknologi informasi, komunikasi digital, serta internet.

STIKES KHAS Kempek ini yang dibangun oleh yayasan KHAS (Kiayi Haji Aqil Siraz) berdiri di atas tanah dengan 10.200 meter persegi dengan dua program studi, yaitu Studi Farmasi dan Studi Gizi.

Turut hadir dalam acara ini Sekretaris Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Agus Indarjo dan tamu undangan lainnya.

Wicky Budy Purwaka
Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kemenristekdikti

Instagram: @Ristekdikti
Twitter: @Kemristekdikti
Facebook: Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi
YouTube: Ristekdikti TV
Website : https://ristekdikti.go.id
Google Play : G-Magz