GRESIK – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan, sesuai amanat Presiden Republik Indonesia Joko Widodo untuk memberikan kesempatan kepada anak bangsa untuk dapat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi di bangku kuliah, tidak terkecuali para santri lulusan yang ada di pondok pesantren.

“Ini sesuai amanat bapak Presiden yaitu membangun pendidikan tinggi dalam rangka untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di Indonesia,” ujar Menteri Nasir dalam sambutannya pada acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Ar-Roudloh Tambakrejo, Kab. Pasuruan, Jawa Timur, Senin (12/11/18).

Lebih lanjut Menteri Nasir menggambarkan, pembangunan dalam bidang pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) meliputi peningkatan kualitas SDM yang siap bertarung di tengah persaingan global yang semakin ketat. Untuk itu, ia berpesan kepada putra putri yang ada di Pasuruan untuk bisa segera melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.

“Apabila ada putra putri bapak ibu semuanya disini, apabila ada yang ingin masuk perguruan tinggi tetapi tidak punya biaya karena keterbatasan ekonominya. Segera laporkan kepada pemerintah melalui Kemenristekdikti, maka akan kami berikan beasiswa,” terang Nasir.

Menteri Nasir juga menyampaikan, saat ini di beberapa perguruan tinggi sudah memiliki mahasiswa yang mempunyai latar belakang hafiz (penghafal Alquran). Selama ini, Nasir menceritakana bahwa sulitnya para hafiz untuk masuk perguruan tinggi.

“Yang masih terkendala saat ini dikarenakan biayanya yang mahal. Akhirnya baru-baru ini kami melakukan afirmasi dan menghitung di seluruh Indonesia bahwa ternyata para hafiz berjumlah sekitar 200-250 yang sudah menjadi mahasiswa. ” tambah Nasir.

Merespon hal ini, Menteri Nasir mengatakan bahwa Kemenristekdikti juga akan memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang sebagian tidak mampu di Universitas Yudharta Pasuruan yang berjumlah sekitar 75 orang.

Menristekdikti juga menggambarkan bagaiman filosofi dalam mencari ilmu sama artinya dengan mencari batu mutiara di tengah laut dengan menggunakan perahu, artinya mencarinya harus dengan perjuangan dan tidak putus asa.

“Dalam mencari ilmu, kita tidak boleh yang namanya putus asa, tidak berhenti dari masa kecil hingga pada masa tua nanti. Belajar atau mencari ilmu bukan untuk anak kecil maupun anak muda saja, orang tua pun juga wajib mencari ilmu,” tutupnya.

 

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik

Kemenristekdikti