Siaran Pers Kemenristek/BRIN
Nomor: 47/SP/HM/BKKP/III/2020

Konsorsium Covid-19 dipimpin Kemenristek/BRIN sampaikan jambu biji, daun kelor, dan kulit jeruk meningkatkan daya tahan tubuh hadapi Covid-19.

Sehubungan dengan semakin luasnya penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) yang telah ditetapkan sebagai pandemi global oleh World Health Organization (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020, maka diperlukan langkah-langkah cepat, tepat, fokus, terpadu, dan sinergis antar Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah untuk melakukan refocusing kegiatan, realokasi anggaran, serta pengadaan barang dan jasa dalam rangka percepatan penanganan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) turut berkontribusi menghadapi pandemi COVID-19 di Indonesia pada bidang Penelitian, Pengembangan, Pengkajian dan Penerapan (litbangjirap) dengan membentuk Konsorsium Riset dan Inovasi untuk mencegah, mendeteksi, dan merespon secara cepat penyakit COVID-19 yang secara singkat disebut sebagai Konsorsium COVID-19. Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) secara resmi memaparkan pembentukan konsorsium tersebut melalui konferensi video kepada masyarakat dan media massa pada Kamis (26/3).

“Seluruh tim peneliti Kemenristek/BRIN sedang bekerja keras untuk membantu mencegah, mendeteksi, dan merespon secara sepat penyakit COVID-19 di antaranya dengan menemukan alat deteksi atau diagnosis, suplemen, obat, dan vaksin untuk pasien COVID-19. Ada target jangka pendek, menengah, dan panjang yang harus dicapai,” papar Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro dalam video konferensi dengan media massa dari kediamannya di Jakarta pada Kamis (26/3).

Sebagai lembaga negara yang diberikan mandat oleh Undang-Undang untuk menjalankan dan mengintegrasikan kegiatan litbangjirap di Indonesia, Kemenristek/BRIN menetapkan tiga prioritas kegiatan litbangjirap yang akan dilaksanakan oleh Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19.

Prioritas yang pertama adalah Prioritas Jangka Pendek yang berfokus pada penelitian dan kajian sistematik (systematic review) terhadap berbagai aspek dari COVID-19, termasuk di dalamnya penelitian terkait tanaman herbal yang berpotensi untuk mencegah COVID-19, seperti jahe merah, meniran, sambiloto, echinaceae, temu lawak, lada hitam, serai, kunyit, kayu manis, seledri, cengkeh, kulit manggis, daun kelor, kulit jeruk, dan jambu biji. Penelitian terhadap jambu biji sudah memiliki hasil yang potensial untuk dilanjutkan pada uji klinis.

Prioritas Jangka Pendek juga mencakup pengembangan Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker, hand sanitizer, sterilization chamber (tenda sterilisasi coronavirus) serta pengkajian terhadap sediaan bahan alami sebagai peningkat imun tubuh untuk mencegah COVID-19. Penelitian juga perlu dilakukan terhadap aspek sosial humaniora, termasuk ketahanan (resiliensi) dan perilaku masyarakat, perbandingan kebijakan dan manajemen COVID-19 di negara lain, analisis ekonomi makro dan mikro di Indonesia terkait COVID-19. Beberapa kajian lagi juga mencakup berbagai isu terkait COVID-19 di media sosial, public health modelling, serta proyeksi dan prediksi grafik dan peta spasial dari penyebaran COVID-19 di Indonesia.

Prioritas kedua dari Konsorsium COVID-19 adalah Prioritas Jangka Menengah yang berfokus pada pengembangan dan pengkajian Rapid Test Kit untuk COVID-19 baik untuk deteksi awal (early detection) maupun deteksi akhir (late detection); pengembangan suplemen, multivitamin, dan immune modulator dari berbagai tanaman Indonesia, salah satunya jambu biji; pengembangan robot layanan (service robot) untuk ruangan dengan infeksi coronavirus yang tinggi, smart infusion pump untuk memasukkan obat dalam tubuh pasien COVID-19 serta pengembangan lainnya.

Prioritas ketiga dari Konsorsium COVID-19 adalah Prioritas Jangka Panjang yang berfokus pada pengkajian dan pengembangan obat dan vaksin, termasuk avigan, chloroquin, kina, dan sebagainya.

Target jangka pendek (quick win), menengah, dan panjang tersebut akan dicapai oleh Tim Konsorsium COVID-19 dengan pendanaan khusus dalam koordinasi Kemenristek/BRIN dengan beberapa lembaga negara non kementerian (LPNK), perguruan tinggi, dan industri yang nanti akan tergabung dalam tim tersebut.

Hingga saat ini sudah ada beberapa inovasi yang dihasilkan oleh LPNK dalam lingkungan Kemenristek/BRIN, salah satunya dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang mencakup Airborne Sterilizer yang mampu mengeluarkan NanoOzone yang dapat menangkap dan menghancurkan coronavirus di udara, Mobile Disinfection Chamber atau tenda disinfeksi coronavirus, alat sterilisasi coronavirus untuk uang kertas dan logam, serta alat pelindung diri (APD) ramah lingkungan (biodegradable) bagi tenaga kesehatan dalam mencegah COVID-19, mencakup jas lab, penutup kepala, dan masker.

LIPI saat ini juga sedang menguji beberapa tanaman herbal, jamu, maupun obat herbal terstandard yang potensial sebagai penguat sistem imun (immunomodulator) dan obat pencegah atau penghambat virus (antiviral) bagi COVID-19. Beberapa tanaman tersebut mencakup jahe merah, echinaceae, meniran, sambiloto, kayu surian, akar manis, rosella, biji anggur, bawang putih, teripang, serta tempe.

Sebelum pembentukan Konsorsium COVID-19, Kemenristek/BRIN sudah mengkoordinasikan berbagai lembaga litbangjirap, termasuk dari lembaga pemerintah non kementerian (LPNK) mencakup Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), dan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman; Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan; perguruan tinggi mencakup Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Sepuluh November, dan Universitas Airlangga; industri farmasi mencakup PT Biofarma dan PT SOHO; serta para peneliti diaspora Indonesia di luar negeri untuk bekerja sama dan bersinergi dalam menghasilkan kajian dan inovasi yang bermanfaat dalam mencegah, mendeteksi, melakukan skrining, menunjang diagnosis, merespon serta mengobati COVID-19.

Dari perguruan tinggi, sudah terdapat gabungan penelitian yang dapat dilanjutkan oleh Konsorsium COVID-19. Penelitian ini dilakukan oleh gabungan peneliti dari Fakultas Kedokteran UI, Fakultas Farmasi UI, Departemen Ilmu Komputer IPB, dan Pusat Studi Biofarmaka Tropika IPB dalam bidang bioinformatika untuk menemukan bahan herbal sebagai kandidat potensial untuk antivirus bagi coronavirus melalui analisis big data dan machine learning serta metode pemodelan molekuler.

Dari hasil screening aktivitas terhadap ratusan protein dan ribuan senyawa herbal berkaitan dengan mekanisme kerja coronavirus, dihasilkan beberapa golongan senyawa yang berpotensi mencegah dan menghambat coronavirus, antara lain hesperidin, rhamnetin, kaempferol, kuersetin dan myricetin yang terkandung dalam jambu biji (daging buah merah muda), daun kelor, dan kulit jeruk. Kolaborasi riset dengan salah satu industri farmasi sedang dilakukan untuk menjadikan olahan farmasi dari jambu biji dapat segera diberikan bagi masyarakat maupun pasien COVID-19.

Selain di kegiatan litbangjirap, Kemenristek/BRIN akan berkontribusi membantu masyarakat dan instansi kesehatan (Rumah Sakit) melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai pimpinan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dengan memberikan bantuan berupa hand sanitizer produksi BPPT dan LIPI, penyemprotan disinfektan menggunakan drone untuk beberapa wilayah perumahan, serta pemberian prototype disinfectan/sterilization chamber di beberapa fasilitas umum.

Turut berpartisipasi dalam conference call ini Plt. Staf Ahli Bidang Infrastruktur Ali Ghufron Mukti, Plt. Direktur Sistem Inovasi Paulina Pannen, Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nizam, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Anhar Riza Antariksawan, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Soebandrio, Kepala Pusat Studi Biofarmaka Tropika Institut Pertanian Bogor (LPPM IPB) Irmanida Batubara, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Fahrial Syam, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM) Ova Emilia, Direktur Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS Unair) Nusronudin, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Institut Teknologi Bandung (ITB) I Gede Wenten, Sekretaris Bidang Riset dan Publikasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) llmiah Ahmad Hidayat, diaspora Indonesia Santi dari University of Nottingham, Ketua Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia Muhammad Azis serta para pimpinan Kemenristek/BRIN.

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN