Siaran Pers Kemristek/BRIN
Nomor: 9/SP/HM/BKKP/I/2020

JAKARTA – Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang P.S. Brodjonegoro, menghadiri perhelatan Newton Prize 2019 di Tribrata Dharmawangsa, pada Selasa (14/01).

Kolaborasi riset dan inovasi Indonesia-Inggris dalam kerangka kerjasama Newton Fund dilakukan melalui upaya pendanaan bersama, untuk implementasi kolaborasi riset dan inovasi kelas dunia, yang tidak hanya berdampak global, namun juga memberikan kontribusi secara nyata pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia dan Inggris.

“Melalui Newton Fund, jumlah kolaborasi riset dan inovasi, antara Indonesia dan Inggris telah meningkat pesat sejak tahun 2014 sampai dengan 2019. Sebanyak lima belas (15) program kolaborasi riset dan inovasi telah dikalankan, dari sebanyak 22 proposal penelitian. Selain itu, lebih dari 200 peneliti dan pegiat Iptek dan Inovasi yang tergabung dalam 100 institusi penelitian dan pendidikan tinggi di Inggris dan Indonesia, mendapatkan fasilitasi kemitraan yang didanai oleh Newton Fund tersebut.” ujar Menteri Prof. Bambang PS Brodjonegoro.

Sebanyak 5 (lima) kolaborasi riset Indonesia-Inggris berhasil masuk seleksi Newton Prize 2019 untuk kategori Country Prize, antara lain:

  1. Meningkatkan Kehidupan Perempuan Melalui Perencanaan Kota yang Lebih Baik: Politik Ekonomi Keseharian Berbasis Gender dalam Penggusuran Kamping dan Resetelmen Penduduk di Jakarta. Proyek ini dipimpin oleh Dr. Chusnul Mariyah dari Universitas Indonesia dan Dr. Juanita Elias dari University of Warwick.
  2. Meningkatkan Kualitas Diagnosis Tuberkulosis: Pengembangan Diagnosis Serologi Aspergillosis Kronis dan Histoplasmosis Kronis di Indonesia. Proyek ini dipimpin oleh Prof. Retno Wahyuningsih dari Universitas Indonesia dan Prof. David W. Denning dari Manchester University.
  3. Mencegah Penyebaran Penyakit Menular: Dinamika Transmisi dan Epidemiologi Molekular Arbovirus di Indonesia. Proyek ini dipimpin oleh Dr. Tedjo Sasmono dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Prof. Simon Frost dari Cambridge University.
  4. Tepung Tempe dapat Mengurangi Resiko Dimensia: Tempe untuk Meningkatkan Daya Ingat pada Lansia dengen Demensia (TIME). Proyek ini dipimpin oleh Prof. Tri Budi Rahardjo dari Universitas Respati Indonesia dan Prof. Eef Hogervorst dari Loughborough University.
  5. Membangun Ketahanan Masyarakat Pesisir: Pengarustamaan Strategi Pengurangan Resiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim Terpadu ke dalam Kebijakan Pengembangan Aglomerasi Perkotaan Pesisir. Proyek ini dipimpin oleh Dr. Harkunti Rahayu dari Institut Teknologi Bandung dan Prof. Richard Haigh dari University of Huddersfield.

Selain itu, terdapat 1 (satu) finalis untuk kategori Chair’s Prize yang akan diumumkan di London, Inggris pada 12 Februari 2020 dengan judul penelitian Pemeliharaan Jembatan untuk Komunitas yang Saling Terkoneksi dan Sejahtera: Pengembangan Sistem Pemantauan Jembatan dan Peringatan Dini yang Hemat Energi dengan Harga yang Terjangkau, Menggunakan Jaringan Sensor Nirkabel dan Sistem Multi Agent. Proyek ini dipimpin oleh Prof. Bambang Riyanto Trilaksono dari Institut Teknologi Bandung dan Dr. Dina Shona Laila dari University of Conventry. Kategori Chair’s Prize akan menyandingkan para finalis kolaborasi peneliti Indonesia-Inggris dengan finalis kolaborasi Filipina-Inggris dan Tiongkok-Inggris.

Pemenang Newton Prize 2019 untuk kategori Country Prize, sebagaimana diumumkan oleh Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Owen Jenkins, adalah kolaborasi penelitian Dr. Harkunti Rahayu dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Prof. Richard Haigh dari University of Huddersfield, dengan judul penelitian Membangun Ketahanan Masyarakat Pesisir: Pengarustamaan Strategi Pengurangan Resiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim Terpadu ke dalam Kebijakan Pengembangan Aglomerasi Perkotaan Pesisir.

Bersama dengan tim peneliti, Dr. Harkunti Rahayu dan Prof. Richard Haigh telah mengembangkan strategi baru untuk melindungi rumah, bisnis dan infrastruktur di daerah perkotaan pesisir dengan lebih baik. Tim ini memadukan dua pendekatan berbeda, yaitu pengurangan resiko bencana dan adaptasi perubahan iklim, dengan tujuan mengembangkan strategi baru terpadu yang dapat dimasukkan ke dalam rencana pembangunan Indonesia. Hasil penelitian ini dapat disesuaikan untuk digunakan di negara dan wilayah lain yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, termasuk di Inggris.

Dana yang diberikan untuk pemenang penelitian kategori Country Prize ini mencapai dua ratus ribu poundsterling (setara 3,5 miliar rupiah) di setiap negara, sementara untuk pemenang pada penelitian kategori Chair’s Prize sebesar lima ratus ribu poundsterling (setara 9 miliar rupiah).

“Keberhasilan kemitraan sains dan teknologi Inggris-Indonesia, yang kami dukung melalui program Newton Fund, telah membawa perubahan besar dalam hubungan kedua negara dalam bidang riset dan inovasi. Newton Fund telah berhasil memfasilitasi riset berskala internasional dan mempersatukan ilmuwan-ilmuwan terbaik dari berbagai bidang.” ujar Heather Wheeler, UK Minister for Asia and the Pacific menambahkan.

Turut hadir pada acara Newton Prize 2019, Plt. Staf Ahli Bidang Infrastruktur Iptek Dikti, Prof. Ali Ghufron Mukti; Direktur Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Prof. Ocky Karna Radjasa, Nada Marsudi serta Windie Nababan.

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN