Siaran Pers Kemenristekdikti
Nomor: 227/SP/HM/BKKP/X/2019

Subdirektorat Penyelarasan Kebutuhan Kerja, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyelenggarakan Seminar Nasional Pengembangan Program Pusat Karier/Tracer Study pada Rabu (23/10/2019), di Digital Library Universitas Negeri Yogyakarta.

Acara yang dibuka oleh Direktur Kemahasiswaan, Didin Wahidin, diselenggarakan untuk mendorong pengembangan Pusat Karier dan tracer study pada Perguruan Tinggi seluruh Indonesia. Pasalnya, pengukuran kualitas lulusan di dunia kerja dapat menjadi bahan evaluasi dan pengukuran kualitas pembelajaran di pendidikan tinggi.

“Pusat karier itu menjembatani antara kebutuhan kampus dan dunia kerja. Hibah pusat karier tujuannya untuk memberikan kesadaran bahwa dunia pendidikan memberikan makna bagi mahasiswa dalam hidup dan pekerjaannya,” terang Didin.

Direktur Jenderal Belmawa, Ismunandar, bergabung melalui video dan menekankan bahwa penguatan Pusat Karier di tingkat Perguruan Tinggi menjadi sangat penting mengingat semakin dini para calon lulusan mengenal dunia kerja, semakin siap mereka kelak ketika memasukinya.

Ismunandar mengharapkan perguruan tinggi dapat menjalankan fungsi pusat karier yang tepat untuk mencapai tujuan mengetahui penyerapan, proses, dan posisi lulusan dalam dunia kerja. Menurutnya hal itu dapat membantu program Pemerintah dalam memetakan dan menyelaraskan kebutuhan dunia kerja dengan kompetensi yang diperoleh dari hasil pembelajaran di perguruan tingginya.

Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sutrisna Wibawa, menyebutkan Revolusi Industri 4.0 menuntut pusat karier menjadi pemberi masukan akademik terhadap kurikulum pembelajaran. “Revolusi Industri 4.0 membuat perguruan tinggi gamang dalam mendidik. Apa yang diajarkan ternyata dapat saja berubah tidak sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Dari tracer study diharapkan ada masukan masukan akademik terkait perkembangan kurikulum,” jelasnya.

Kepala Subdirektorat Penyelarasan Kerja, Tiomega Gultom, menyampaikan bahwa pada tahun 2019 ini, Kemenristekdikti tengah melakukan kajian terkait pusat karier di perguruan tinggi. Ke depannya, hasil studi itu akan menjadi bahan panduan untuk pendirian dan operasional pusat karier di perguruan tinggi. Bahkan, tak menutup kemungkinan untuk dapat dijadikan Peraturan Menteri. Selain itu, pada tahun 2020, menurut Mega, dana bantuan hibah sudah tidak ada lagi. Skema tersebut akan dirubah menjadi insentif. Jadi format pusat karier bukan lagi pemacu, tetapi penghargaan bagi Pusat Karier terbaik.

Hadir sebagai pembicara kunci (keynote speaker) dalam seminar ini adalah Direktur Pembinaan Kelembagaan Pendidikan Tinggi, Totok Prasetyo. Ia menjelaskan bahwa mulai tahun 2019, tracer study telah menjadi salah satu instrumen dalam pemeringkatan atau klasterisasi perguruan tinggi di Indonesia.

“Ditjen Kelembagaan melihatnya sebagai tanggung jawab perguruan tinggi bahwa produk perguruan tinggi itu bisa dimafaatkan oleh masyarakat atau tidak,” jelas Totok.

Selain itu, menurutnya alumni itu adalah aset perguruan tinggi. Ia menekankan bagaimana perguruan tinggi Indonesia harus mampu mengikat alumninya agar terus berkontribusi pada almamater. Artinya, alumni harus merasa besar karena kampusnya.

Seminar ini merupakan diseminasi program yang dilaksanakan dari beberapa wilayah, mulai dari penyeleksian proposal pengajuan bantuan dana hingga penentuan perguruan tinggi yang berhasil menerima dana bantuan.

Seminar ini didukung oleh para Koordinator Wilayah (Korwil) Pusat Karier yang telah memantau pengembangan, implementasi program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh masing-masing perguruan tinggi penerima bantuan Pengembangan Tahun 2019.

Di samping kegiatan seminar, Pengembangan Program Pusat Karier 2019 juga juga memberikan penghargaan kepada juara presentasi dan poster tracer study di bidang vokasi maupun non vokasi. (HKLI/MFR)

Layanan Informasi Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan
Kemenristekdikti