Siaran Pers Kemenristekdikti
Nomor : 90/SP/HM/BKKP/V/2019

Yogyakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan pengembangan pendidikan Indonesia harus berbasis masa depan agar dapat memberikan nilai tambah dan menjadi solusi bagi masyarakat.

“Pendidikan harus berbasis pada masa depan, jika pendidikan tidak berbasis masa depan, maka pendidikan itu sama saja dengan museum yang berbasis pada masa lalu, meskipun museum penting sebagai pembelajaran,” tutur Wapres Jusuf Kalla saat memberikan Keynote Speech Seminar Nasional Dies Natalis Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Ruang Sidang Utama Rektorat UNY, Sabtu (04/05).

Wakil Presiden Jusuf Kalla menjelaskan inti dari kemajuan suatu negara adalah pendidikan dan inti dari pendidikan adalah guru. Oleh karena itu UNY sebagai tempat pendidikan guru dan sebagai penopang utama pendidikan secara nasional memiliki pengaruh penting dalam meningkatkan pendidikan nasional yang lebih baik.

Wapres JK menambahkan kesejahteraan dan kemajuan kualitas guru pun perlu diperhatikan demi kemajuan bangsa.

“Saat ini pemerintah sudah memberi kesejahteraan yang lebih baik kepada guru dibandingkan masa-masa yang lalu. Peningkatan tunjangan dan kesejahteraan itulah yang membuat minat terhadap pendidikan keguruan dan profesi guru semakin meningkat,” imbuh Wapres JK.

Menurut Wapres JK, ada empat faktor utama yang mempengaruhi kualitas pendidikan suatu instansi pendidikan.

“Pertama adalah gurunya, sejauh mana kualitas dan tingkat pengetahuan gurunya, kedua adalah kurikulumnya, ketiga sarananya, dan yang keempat budaya lingkungannya,” papar Wapres JK.

Wapres JK menekankan bahwa lingkungan dan budaya suatu daerah harus menjadi bagian yang harus diperhatikan. Budaya pendidikan sebuah daerah akan ikut mempengaruhi daya saing daerah tersebut.

“Kenapa Yogya, Bandung, Malang, menjadi pusat-pusat pendidikan? Karena lingkungan budaya mendorong budaya belajar itu. Karena itulah maka kita semua harus memperbaiki atau memberi perhatian yang besar kepada budaya dan lingkungan belajar kita semua,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan pendidikan tinggi di Indonesia harus mampu menghadapi tantangan globalisasi di era Revolusi Industri 4.0 dan menghasilkan pendidikan yang berkualitas.

“Guru menjadi faktor kunci keberhasilan, penting untuk kita berinvestasi dalam menyiapkan guru profesional dan kompeten yang mampu mendidik generasi muda menuju masa depan Indonesia yang lebih cerah,” tegas Menteri Nasir.

Sementara itu Rektor UNY Sutrisna Wibawa menyampaikan UNY merupakan salah satu universitas bekas Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) yang fokus menyiapkan calon pendidik dan tenaga kependidikan. Setelah menjadi universitas, UNY diberi tugas oleh pemerintah untuk menyelenggarakan program keilmuan non kependidikan.

“Saat ini UNY berada pada klaster 1, klaster unggul secara nasional dan menduduki peringkat 11 nasional. Di Asia Tenggara UNY berada di peringkat 87 dan di Asia berada di peringkat antara 451-500,” ungkap Sutrisna.

Usai menghadiri Seminar Nasional Dies Natalis UNY, Wapres JK didampingi Menristekdikti, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, dan Rektor UNY meresmikan Gedung Program Pascasarjana UNY yang ditandai dengan penandatangan prasasti dan penarikan pita, kemudian dilanjutkan dengan peninjauan gedung.

70 Peserta Tunanetra Ikuti UTBK dengan Metode Screen Reader

Pada hari yang sama Menristekdikti meninjau pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di UNY. Pada saat meninjau Menristekdikti melihat pelaksanaan UTBK bagi peserta tunanetra yang menggunakan metode ‘screen reader’.

Menurut Menteri Nasir metode screen reader tersebut merupakan sebuah inovasi yang sangat bagus yang bisa memudahkan peserta difabel dalam mengerjakan soal. Di dalam pelaksanaannya baik peserta biasa atau pun peserta difabel sama-sama memiliki tingkat kesulitan soal yang sama.

“Tingkat kesulitan soal sama, namun ada sedikit penyesuaian peserta tunanetra. Dengan inovasi baru ini artinya peserta difabel memiliki kesempatan yang sama melalui jalur reguler hanya saja jumlah soalnya yang disesuaikan, karena bagi tunanetra membutuhkan waktu, namun tingkat intelegensi setara bahkan bisa jauh lebih baik,” imbuh Nasir.

Ada sekitar 70 peserta tunanetra yang mengikuti UTBK dengan metode screen reader di Indonesia. Di UNY sendiri ada 8 orang peserta tunanetra. Menteri Nasir mengungkapkan pelaksanaan UTBK dengan metode ini berjalan dengan baik.

Turut hadir pada acara tersebut Ketua LTMPT Ravik Karsidi, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ismunandar, para Rektor PTS dan PTN di Yogyakarta, serta tamu undangan lainnya.

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kemenristekdikti