(Serpong, 17/01/2019). Mengelola fasilitas nuklir sudah barang tentu menjadi keharusan bagi Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) untuk memperhatikan sistem keamanan. Bicara soal sistem keamanan tak lepas dari sistem proteksi fisik. Kini, masyarakat dapat belajar bagaimana sistem proteksi fisik di sebuah fasilitas nuklir bekerja tanpa harus meninjau langsung fasilitas yang ada.

“Laboratorium sistem proteksi fisik adalah laboratorium yang ditujukan  untuk kegiatan pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan sistem proteksi fisik. Selain itu juga sebagai sarana untuk penelitian, percobaan dan perbaikan komponen yang berkaitan dengan sistem proteksi fisik, seperti sensor, kamera, detektor, dan sebagainya,” jelas Kepala Pusat Pendayagunaan Informatika dan Kawasan Strategis Nuklir (PPIKSN) BATAN, Yusi Eko Yulianto saat diwawancara sebelum acara peresmian laboratorium, di Gedung 90, PPIKSN BATAN, Kawasan Nuklir Serpong (KNS), Kamis (17/01).

Fasilitas ini nantinya, lanjut Yusi, dapat digunakan sebagai sarana untuk mendemonstrasikan kepada masyarakat bagaimana cara kerja sistem proteksi fisik di kawasan nuklir. Selain itu, sarana ini dapat digunakan bagi peserta pelatihan yang belajar tentang sistem proteksi fisik di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) BATAN, agar tidak hanya belajar teori di atas kelas saja, namun dapat melihat langsung “miniatur” dari sistem proteksi fisik melalui laboratorium ini.

“Harapannya bisa membuka wawasan bagi peserta diklat maupun masyarakat yang berkunjung, Bagaimana BATAN mempersiapkan diri secara baik dan benar dalam mengembangkan sistem proteksi fisik dan cara kerja yang mengikuti perkembangan  zaman yang ada,” tambahnya.

Ia juga berharap kedepan, laboratorium ini tidak hanya digunakan oleh personil keamanan BATAN dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) saja, tapi dapat membuka peluang kerja sama bagi instansi nasional maupun internasional yang berkaitan dengan keamanan untuk memanfaatkan laboratorium ini.

Senada dengan Yusi, Plt Kepala BATAN, Falconi Margono berharap, laboratorium ini bisa menjadi referensi bagi instansi lain yang berkaitan dengan keamanan, bagaimana pengelolaan proteksi fisik di fasilitas nuklir.

“Karena hanya kita yang mengelola fasilitas nuklir, maka kita harus leading di bidang itu,” kata Falconi saat memberikan sambutan pada acara peresmian laboratorium ini.

Lebih lanjut Staf Unit Pengamanan Nuklir Kawasan Nuklir Serpong, Teguh Asmoro menjelaskan, laboratorium saat ini terdiri dari 4 bagian, yakni Laboratorium Integrasi Sistem Proteksi Fisik, Laboratorium Sistem Deteksi, Laboratorium Sistem Kontrol Akses, dan Laboratorium Sistem Camera Assessment. Peralatan laboratorium  yang tersedia saat ini menurutnya diperoleh dengan memanfaatkan peralatan sistem proteksi fisik yang sudah tidak digunakan lagi di fasilitas nuklir, namun masih bisa digunakan sebagai sarana pembelajaran.

“Beberapa alat seperti sensor atau detektor memang sudah pernah digunakan. Karena pada tahun 2015, kami meng – upgrade alat yang lama dari sistem analog ke digital, maka alat yang lama ini digunakan di lab. Namun ada juga beberapa jenis sensor yang rusak, kami mencoba merakit sendiri sehingga persis dapat berfungsi seperti aslinya” ucap Teguh yang pernah training ke Jepang khusus untuk belajar tentang pengelolaan laboratorium serupa.

Ia berharap kedepan, laboratorium ini dilengkapi juga dengan fasilitas laboratorium contraband detection atau laboratorium deteksi penyelundupan, yang dapat dijadikan sarana pembelajaran bagi peserta diklat untuk mengetahui sistem proteksi fisik ketika ada penyelundup yang membawa bom, metal, atau senjata tajam ke dalam fasilitas nuklir.

“Semoga kedepan fasilitas ini semakin lengkap sehingga memenuhi standar sebagai lab proteksi fisik yang merepresentasikan sistem proteksi fisik di fasilitas nuklir,” harapnya.

Plt Kepala BATAN, Falconi Margono secara simbolis meresmikan 3 fasilitas sekaligus di lingkungan KNS, yakni Laboratorium Proteksi Fisik, Musholla dan Kantin PPIKSN. Ketiga fasilitas ini diharapkan dapat lebih memberikan kenyamanan baik pegawai BATAN maupun masyarakat yang sedang berkunjung ke KNS (tnt).