Press Release

Nomor : 349/SP/HM/BKKP/XII/2018 

 

Empat tahun terakhir Pemerintahan Joko Widodo, Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi terus mendorong tumbuhkembangnya produk inovasi karya anak bangsa, baik berupa tumbuhnya hasil penelitian produk inovasi maupun tumbuh dan berkembangnya perusahaan pemula berbasis teknologi.

Dirjen Penguataan Inovasi Kemenristekdikti menjadi ujung tombak dalam meramu insan kampus, peneliti dan pengusaha dalam mewujudkan cita cita bersama bagaimana mewujudkan kampus sebagai agen perubahan dan penggerak ekonomi bangsa. Salah satu programnya adalah kolaborasi antara kampus, peneliti dan pengusaha agar mampu membawa hasil penelitian kalangan peneliti di kampus diwujudkan menjadi produk industri atau hilirisasi hasil penelitian yang bisa diterima di pasaran nasional maupun global.

Dirjen Penguatan Inovasi Jumain Appe menyampaikan bahwa tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi adalah bagaimana mendorong  para peneliti menghasilkan banyak penelitian yang berdaya guna dan mampu mendorong perekonomian Indonesia menjadi lebih baik. Selain itu, Dirjen PI juga mendorong lahirnya banyak pengusaha pemula berbasis teknologi dan perusahaan pemula berbasis teknologi yang lahir dari hasil penelitian di kampus.

“Dengan cara demikian, hasil penelitian tidak hanya akan berhenti sebatas hasil penelitian, namun mampu dikembangkan menjadi industri yang memberikan efek ekonomi, baik membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan nilai tambah, hingga secara umum mendorong kesejahteraan rakyat Indonesia,’’ harapnya.

Membina Perusahaan Start Up

Kerja keras Dirjen PI mendorong tumbuhnya Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Ini dilihat dari pertumbuhan PPBT yang tumbuh empat taahun terakhir. Tahun 2015 ada 52 PPBT, 2016 ada 203 buah, 2017 ada 661 dan 2018 meningkat menjadi 956 PPBT. “Untuk 2019 kita mentargetkan ada 1000 perusahaan pemula berbasis teknologi yang tumbuh.

Begitu juga jumlah persahaan yang mature atau sudah matang sehingga produkya sudah dijual di pasaran mengalami peningkataan. Tahun 2015 hanya ada tiga perusahaan, tahun 2016 mengalami peningkatan menjadi  empat dan di tahun 2017 menjadi  13 perusahaan. Dirjen PI tahun 2018 juga telah mengeluarkan anggaran 78 miliar untuk membiayai 285 PPBT dan CPPBT.

Dirjen Penguatan Inovasi mendorong tumbuhkembangnya perusahaan start up  berbasis teknologi seperti  perusahaan megic ring  binaan Inkubator Jawa Tengah  yang bisa digunakan untuk menghemat bahan bakar. Juga, perusahaan kapal pelat datar PT Juragan Kapal dengan pembina Pusat Inkubasi Universitas Indonesia. Ada lagi perusahaan aplikasi youthmanual.com yang merupakan platform persiapan  kuliah dan karier yang bisa digunakan untuk merencanakan masa depan pelajar, sistem satpam pintar yang digunakan untuk memantau produksi di suatu industri binaan Inkubator Industrial Inovation Center. Ada lagi produksi helem dari biokomposit dari bahan tandan kosong sawit yang bermanfaat mengurangi resiko benturan di kepala yang merupakan binaan dari IPB Bogor. Dan juga Katalis Merah Putih ITB yang mampu mengolah minyak sawit menjadi bahan bakar minyak sehingga bisa menghemat impor BBM.

Peningkatan kualitas kierja Dirjen PI juga terlihat dari peningkaatan jumlah Hak Kekayaaan Intelektual (HKI) yang didaftarkan. Tahun 2016 ada 5 paten yang didaftarkan, 6 merek dagang, dan masing-masing hanya satu pendaftaran desain dan hak cipta. Kondisi ini sangat berbeda dengan 2017, diantaranya total ada 40 hak paten yang didaftarkan, 3 hak cipta, 3 desain industri, 31 merek dagang, dan 1 perlindungan varietes tanaman.

Inovasi Industri

Tercatat dari tahun 2015 -2018 inovasi industry di perguruan tinggi ada 9 lini produk yaitu Benih Padi IPB-3S,Buah Tropika – IPB, Katalis – ITB, Smartphone  – ITB, Technomed – UGM, D’Ozone – UNDIP, Stem Cell – UNAIR, GESITS – ITS, Bibit Sapi UNHAS. Sedangkanuntuk penguatan inovasi perguruan tinggi di industry ada 8 PTNBH yaitu IPB, ITB, UNHAS, UI, UNAIR, UGM, ITS, UNDIP dengan menyediakan kerjasama pendanaan untuk pematangan teknologi, fasilitasi proses industrialisasi, mediasi regulasi, serta membangun jejaring dengan stakeholder terkait untuk produk invensi dan inovasi terpilih.

Sebagai sarana riset dan pengembangan fasilitas teaching industry sebagai tempat pembelajaran dan pelatihan SDM untuk mendukung industry untuk tahun ini jumlah dosendalam teaching industry untuk S2 ada 32 orang, S3 ada 77 orang, guru besar ada 22 orang sedangkan untuk mahasiswadalam teaching industry untuk S1 ada 543 orang, S2 ada 719, S3 ada 44 orang.

Jumlah Publikasi dan Hak Kekayaaan Intelektual (HKI) yang didaftarka tahun 2018 ada 83 publikasi internasional, 27 paten, 5 merek paten . Produk inovasi yang sudah memilikisertifikasi ada 3, izin produksi ada 5, izin edar ada 3, SNI ada5 dan e-catalog ada 1.

Produk Inovasi Unggulan

Produk inovasi yang dihasilkanpun juga cukup membanggakan, diantaranya adalah biomateriil, sepeda motor gesits, radar cuaca, base station 4G, garam produksi, konverter motor perahu nelayan, steam cell, teknologi kapal pelat datar, teknologi pengolahan minyak atsiri, teknologi pembibitan jagung manis, dan straw sapi.

Sepeda motor Gesits misalnya, sepeda motor listrik karya Institut Teknologi Surabaya bekerjasama dengan PT Garansindo ini telah dilaunching Presiden Joko Widodo di Istana dan tahun 2019 siap untuk dipasarkan. Tercatat telah ada 50 ribu pesanan untuk sepeda motor yang produksinya juga bekerjasama dengan PT WIKA Industri dan Kontruksiini.

Dirjen Penguatan Inovasi bekerjasama dengan BPPT telah mengembangkan teknologi pengelolaan garam industri dan garam farmasi. Untuk pembangunan pabrik garam industri  telah dijalin kerjasama dengan  BUMN PT Garam dan direncanakan tahun 2019 pabrik sudah beroperasi dengan kapasitas  produksi 40 ribu ton pertahun. Sementara untuk garam farmasi, BPPT bersama dengan Kemenristekdiki bekerjasama dengan PT Kimia Farma telah membangun pabrik untuk memenuhi kebutuhan garam farmasi Indonesiayang selama ini masih import.

Kemenristekdikti juga telah mampu mendorong dibuatnya konverter kit untuk mengubah penggunaan bahan bakar minyak ke gas  yang lebih hemat. Pengembangannya kini sudah memasuki generasi kedua yang dinilai lebih canggih dan lebih hemat. Dengan alat ini, kini banyak nelayan beralih menggunakan bahan bakar gas dibanding bahan bakar minyak.

Teknologi  perahu plaat datar dikembangkan mahasiswa Universitas Indonesia  sebagai solusi pengembangan teknoloi perkapalan. Kapal ini diproduksi oleh perusahaan star up PT Juragan Kapal dan mulai banyak dikembangkan sebagai kapal nelayan karena dinilai lebih hemat dan lebih produktif. Generasi terbaru teknologi kapal pelat datar dilegkapi dengan radar pencari lokasi ikan yang memudahkan nelayan untuk meningkatkan produksinya.

Produk steam cell atau sel punca adalah teknologi barudibidang Bio Medical Research dari hasil penelitian Universitas Airlangga yang menghasilkan produk Anti Aging dari metabolis steam cell berperan dalam memperbaikikerusakkan jaringan yang mati dengan jaringan baru dansecara aktif menghambat penuaan pada kulit. Prestasi di bidang kesehatan juga diraih oleh Universitas Gajah Mada yang telah menemukan obat pendeteksi kanker Nasopari dan juga menemukan selang untuk mengeluarkan cairan pada penderita hedrosipalus.

Terkait teknologi pengolahan minyak atsiri, Dirjen Penguatan Inovasi bekerjasama dengan Dewan Atsiri Indonesia terus mengembangkan cara pengolahan minyak atsiri dari berbagai produk hasil hayati indonesia.. Sebagaimana diketahui, komiditi minyak atsiri ini sedang naik daun di pasaran internasional untuk berbagai kebutuhan mulai dari pengobatan, aromaterapi hingga bahan baku parfum. Ada 150 jenis minyak atsiri yang selama ini diperdagangkan di pasar internasional dan 40 jenis di antaranya dapat diproduksi di Indonesia. Indonesia bahkan menjadi penyuplai utama tiga komoditi utama yakni minyak nilam yang banyak digunakan di industri parfum, minyak pala sebagai salah satu bahan pembuatan minuman cola, dan minyak daun cengkeh untuk aroma terapi dan bahan parfum. Nilai eksport Indonesia atas komoditas minyak atsiri ini mencapai 300 an juta dolar pertahunnya.

Kluster Inovasi Berbasis Daerah

Dirjen Penguatan Inovasi juga terus mengembangkan model pengembangan klaster inovasi berbasis daerah. Ini adalah upaya mendorong kolaborasi dan sinergi peran serta fungsi para aktor inovasi di daerah dalam upaya mengembangkan potensi lokal untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ini juga sejalan dengan nawacita ke-3 Presiden Jokowi yaitu “membangun indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.”

Klaster tersebut misalnya pengembangan produksi lada putih di Bangka Belitung dan Lampung, peningkatan budidaya cengkeh di Maluku, budidaya kakao di Sulawesi Utara, budidaya lebah madu di Lombok, rumput laut di Sulawesi Selatan, perikanan di Lamongan, sagu di Riau dan Papua, pala di Maluku, produksi dan pengolahan ubi kayu di Lampung, dan teknologi pengolahan ikan terbuang menjadi surimi di Lalimantan Utara.

Ke depan Direktorat Jendral Penguatan Inovasi terus mendorong berbagai inovasi teknologi untuk dikembangkan menjadi industri dalam rangka meningkatkan  kemandirian bangsa dan kesejahteraan Indonesia.